Budaya Suku Tengger kembali menarik perhatian melalui perayaan Hari Raya Karo 1948 Saka di lereng Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Masyarakat Hindu Tengger menggelar upacara adat ini setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan. Tari Sodoran menjadi prosesi yang paling dinanti karena menggambarkan asal-usul kehidupan, keseimbangan alam, dan keharmonisan manusia.

Tahun ini, masyarakat dari Desa Ngadisari, Desa Wonotoro, dan Desa Jetak mengikuti seluruh rangkaian upacara. Desa Ngadisari bertugas sebagai kemanten putra sekaligus menjadi tuan rumah. Desa Wonotoro menjalankan peran sebagai kemanten putri, sedangkan Desa Jetak menjadi saksi. Ketiga desa menjaga pembagian peran tersebut secara bergiliran sebagai bagian dari tradisi yang terus mereka lestarikan.

Prosesi Adat Mengawali Hari Raya Karo

Warga mengawali upacara dengan arak-arakan menuju lokasi ritual. Mereka membawa Jimat Klontongan yang berisi perlengkapan dapur tradisional dari kayu dan bambu. Mereka juga membawa bambu sodoran yang melambangkan mas kawin dalam filosofi kehidupan masyarakat Tengger.

Setiap perlengkapan adat memiliki makna tersendiri. Kuali, tanduk kerbau, gayung kayu, dan perlengkapan lainnya melambangkan hubungan manusia dengan alam. Melalui simbol tersebut, masyarakat mengingat pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Seluruh peserta mengikuti prosesi dengan tertib karena mereka memahami nilai spiritual yang terkandung dalam setiap tahapan ritual.

Masyarakat Tengger memaknai Hari Raya Karo sebagai simbol “berdua”. Makna itu mengingatkan manusia pada asal mula kehidupan. Selain itu, filosofi tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam keluarga dan lingkungan. Karena itu, setiap prosesi selalu menonjolkan nilai persatuan, kebersamaan, dan saling menghormati.

Budaya Suku Tengger

Tari Sodoran menutup puncak Perayaan Hari Raya Karo 1948 Saka Suku Tengger.

Tari Sodoran Menyimpan Filosofi Kehidupan

Dua penari laki-laki menampilkan Tari Sodoran menggunakan tongkat bambu. Gerakan mereka melambangkan proses terciptanya langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh kehidupan. Tarian ini tidak hanya menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang lahirnya kehidupan.

Tokoh Adat Suku Tengger, Supoyo, menjelaskan bahwa masyarakat selalu menggelar upacara Karo pada bulan kedua dalam kalender Tengger, yaitu bulan Karo. Menurutnya, Tari Sodoran menggambarkan proses penciptaan alam semesta. Tradisi tersebut juga mengingatkan manusia agar menjaga keseimbangan hidup sesuai ajaran leluhur.

Supoyo menegaskan bahwa masyarakat terus melestarikan ritual ini secara bergiliran di tiga desa. Mereka menjalankannya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.

Aturan Adat Tetap Dijaga

Masyarakat Tengger juga mempertahankan aturan adat dalam pelaksanaan upacara. Kaum perempuan tidak mengikuti prosesi awal. Mereka baru datang menjelang siang dengan membawa rantang berisi makanan untuk suami atau anggota keluarga yang mengikuti ritual.

Masyarakat memandang aturan tersebut sebagai bagian dari tata cara adat. Mereka menjalankannya dengan penuh kesadaran sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Sekitar pukul 12.00 WIB, para perempuan menyerahkan rantang kepada keluarga masing-masing. Pemuka adat kemudian memimpin doa bersama. Setelah itu, seluruh peserta menikmati makanan secara bersama-sama. Tradisi tersebut melambangkan rasa syukur, persaudaraan, serta harapan akan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Semangat Gotong Royong Menguatkan Tradisi

Anggota DPR RI Dini Rahmania turut menghadiri perayaan Hari Raya Karo tahun ini. Ia menilai masyarakat Tengger berhasil menjaga adat sekaligus merawat kehidupan yang rukun di tengah keberagaman.

Menurut Dini, semangat gotong royong tampak selama pelaksanaan upacara. Warga dari berbagai latar belakang ikut membantu menyiapkan seluruh kebutuhan acara. Umat Islam pun berpartisipasi dalam proses tersebut. Kebersamaan itu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk saling mendukung.

Dini juga menyebut masyarakat Tengger sebagai contoh kehidupan yang harmonis. Mereka mampu menjaga adat tanpa mengabaikan nilai kebhinekaan. Sikap tersebut layak menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai penutup, kepala Desa Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak menampilkan Tari Sodoran bersama. Prosesi itu menandai berakhirnya Hari Raya Karo 1948 Saka. Melalui tradisi tersebut, masyarakat berharap kehidupan tetap damai, sejahtera, dan harmonis. Mereka juga berkomitmen menjaga Budaya Suku Tengger agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.