Warga sekitar menduga orang tua meninggalkan dua balita sendirian di rumah sebelum seorang anak terjatuh dari balkon. Insiden tersebut terjadi di wilayah Jakarta Timur dan langsung menarik perhatian masyarakat.

Korban balita berinisial AC berusia tiga tahun merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Selain AC, satu balita lain berusia dua tahun juga berada di dalam rumah yang sama. Oleh karena itu, dugaan pengabaian anak menguat setelah kejadian.

Polisi melakukan olah TKP kasus balita jatuh tanpa pengawasan orang tua

Ilustrasi garis polisi.

Polisi Lakukan Pengecekan ke Lokasi Kejadian

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur segera merespons informasi dari masyarakat. Kepala Unit PPA, Kompol Sri Yatmini, memimpin langsung tim untuk mengecek tempat kejadian perkara.

Sri Yatmini menjelaskan warga melihat ibu kedua balita bekerja di luar rumah saat kejadian. Sementara itu, ayah dari anak-anak tersebut juga tidak berada di rumah. Jadi, tetangga mendapati anak-anak tanpa pendamping orang dewasa.

Tim PPA mendengar laporan tambahan dari warga tentang pertengkaran orang tua korban sebelum peristiwa itu. Bahkan masyarakat sekitar mengaku mendengar suara cekcok cukup keras. Dengan demikian, keterangan itu membantu polisi mendalami kasus.

Tiga Anak Berada di Rumah dengan Pintu Terkunci

Ketika petugas tiba di lokasi, tim PPA menemukan kondisi pintu rumah terkunci rapat. Di dalam rumah, polisi mendapati tiga anak sekaligus, yaitu PI berusia delapan tahun, AC berusia tiga tahun, dan GKI berusia dua tahun.

PI merupakan kakak tertua yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Polisi menilai keberadaan anak delapan tahun tersebut penting untuk proses asesmen lebih lanjut.

Setelah itu, petugas naik ke lantai dua untuk melakukan olah TKP. Selanjutnya, polisi menemukan sebuah kursi kayu kecil berwarna biru. Warga dan petugas menduga kuat AC menggunakan kursi tersebut untuk memanjat menuju balkon.

Polisi mengamankan kursi itu sebagai barang bukti guna menyusun kronologi kejadian. Proses olah TKP berjalan lancar, lalu petugas membawa ketiga anak ke Polres Metro Jakarta Timur.

Polisi Dalami Kronologi dan Faktor Penyebab

Kepolisian melakukan pendalaman intensif untuk mengetahui urutan peristiwa secara rinci. Kemudian, petugas menggandeng UPT PPPA Jakarta Timur untuk melakukan asesmen psikologis terhadap anak-anak.

Sri Yatmini menegaskan polisi mengutamakan perlindungan anak dalam proses ini. Selain itu, tim berusaha mencari akar masalah agar orang tua memahami risiko lingkungan rumah.

Korban AC sempat mengalami luka cukup serius pada bagian dagu setelah terjatuh. Warga membawa anak tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan medis. Akhirnya dokter memberikan beberapa jahitan pada area luka.

Reaksi Orang Tua Korban Setelah Kejadian

Setelah polisi menghubungi orang tua, ayah dan ibu ketiga anak datang ke Polres Metro Jakarta Timur. Namun orang tua korban menyatakan keberatan ketika polisi menawarkan penempatan anak di rumah aman.

Pernyataan keberatan tersebut mereka tulis secara resmi di atas kertas bermaterai. Ketua RT dan beberapa warga menyaksikan langsung proses penandatanganan itu. Jadi, dokumen itu memiliki kekuatan hukum sebagai bentuk tanggung jawab orang tua.

Polisi meminta orang tua agar mengasuh dan menjaga anak-anak dengan lebih baik pada masa mendatang. Selain itu, petugas menekankan kewajiban pengawasan anak sebagai prioritas utama.

Kasus Viral dari Unggahan Media Sosial

Sebelumnya, akun Instagram @info.jakartatimur mengunggah video yang menampilkan upaya evakuasi balita. Rekaman tersebut viral dengan cepat karena warga berusaha membuka jendela rumah yang terkunci.

Dalam video, beberapa tetangga berinisiatif mengevakuasi AC yang terluka. Mereka melihat satu adik balita lain segera diamankan dan dititipkan sementara di rumah warga terdekat.

Unggahan tersebut memperlihatkan kepedulian kuat dari lingkungan sekitar terhadap keselamatan anak. Warga bertindak cepat, kemudian membantu proses pertolongan pertama.

Imbauan Polisi untuk Para Orang Tua

Kepolisian mengedepankan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Oleh sebab itu, polisi mengimbau seluruh orang tua untuk tidak meninggalkan anak tanpa pengawasan di rumah.

Lingkungan rumah dengan balkon atau tangga tinggi menyimpan potensi bahaya bagi balita. Jadi, orang tua harus menata area bermain anak secara aman terlebih dahulu.

Polisi juga meminta ketua RT dan warga sekitar ikut mengingatkan keluarga yang memiliki anak kecil. Dengan cara itu, masyarakat dapat menciptakan sistem perlindungan bersama.

Pendekatan Perlindungan Anak Jadi Fokus Utama

Dalam penanganan kasus ini, Unit PPA menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai dasar setiap keputusan. Kemudian polisi bekerja sama dengan instansi terkait untuk edukasi keluarga korban.

Pendalaman faktor sosial dan psikologis dilakukan agar anak-anak tetap merasa aman setelah insiden. Jadi, proses hukum tidak menjadi satu-satunya jalan keluar.

Kerja sama antara polisi, pemerintah daerah, dan warga menunjukkan peran penting semua pihak. Oleh karena itu, setiap elemen masyarakat memikul tanggung jawab moral terhadap perlindungan anak.

Kesimpulan

Insiden jatuhnya balita di Jakarta Timur memperlihatkan dugaan kuat pengabaian pengawasan dari orang tua. Polisi bertindak cepat, lalu melakukan olah TKP dan asesmen terhadap anak-anak.

Warga sekitar membantu evakuasi korban secara sigap, sehingga anak segera mendapat penanganan medis. Selanjutnya, kepolisian memberikan peringatan tegas kepada orang tua agar lebih bertanggung jawab.

Perlindungan anak menjadi fokus utama dalam penyelesaian kasus ini. Dengan demikian, orang tua di Jakarta Timur dan di wilayah lain dapat mengambil pelajaran penting dari peristiwa tersebut.