Media sosial – kebanyakan orang membuka media sosial dengan tujuan melepas penat. Namun, setelah beberapa waktu melakukan scrolling, tubuh justru terasa lelah dan pikiran menjadi penuh. Kepala terasa berat, emosi mudah berubah, fokus menurun, dan energi seakan menghilang. Kondisi ini muncul pada banyak pengguna media sosial lintas usia. Oleh karena itu, kelelahan setelah scrolling bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan fenomena psikologis yang nyata.
Pada permukaannya, aktivitas scrolling tampak ringan. Seseorang hanya duduk atau berbaring sambil menggerakkan jari. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, otak bekerja secara intens. Otak memproses rangsangan visual, menilai informasi, berpindah emosi, dan membuat keputusan kecil secara beruntun. Akibatnya, otak mengalami tekanan kognitif yang terus meningkat tanpa disadari.

(SHUTTERSTOCK)
Scrolling Media Sosial Tidak Sama dengan Istirahat
Banyak orang menyamakan scrolling dengan istirahat. Namun, anggapan ini tidak sejalan dengan cara kerja otak. Setiap konten yang muncul memicu respons mental. Otak langsung menentukan apakah konten tersebut menarik, relevan, atau layak dilewati. Proses ini terjadi dalam hitungan detik dan berulang tanpa henti.
Selain itu, media sosial menghadirkan variasi konten yang sangat kontras. Dalam waktu singkat, seseorang dapat melihat humor ringan, berita bencana, konflik sosial, pencapaian pribadi orang lain, dan iklan komersial. Transisi cepat antar emosi ini menuntut adaptasi mental yang tinggi. Akibatnya, otak tidak memiliki waktu untuk pulih.
Selanjutnya, media sosial juga mendorong perbandingan sosial. Pengguna sering melihat versi terbaik kehidupan orang lain. Kemudian, pikiran secara otomatis membandingkan hal tersebut dengan kehidupan pribadi. Proses ini memicu tekanan psikologis, meskipun sering berlangsung tanpa kesadaran penuh.
Dopamin Cepat Datang, Cepat Habis
Media sosial memanfaatkan sistem penghargaan yang tidak konsisten. Kadang konten terasa sangat menarik, sementara di waktu lain terasa biasa saja. Pola ini membuat otak terus berharap menemukan sesuatu yang menyenangkan.
Ketika konten menarik muncul, otak melepaskan dopamin. Zat kimia ini menimbulkan rasa senang dan kepuasan sesaat. Namun, dopamin instan tidak bertahan lama. Setelah efeknya menghilang, otak kembali mencari rangsangan serupa. Oleh sebab itu, seseorang terus melakukan scrolling meskipun rasa lelah sudah muncul.
Lebih jauh lagi, penggunaan media sosial pada malam hari memperparah kondisi ini. Cahaya layar mengganggu ritme alami tubuh. Selain itu, konten emosional membuat otak tetap aktif saat tubuh seharusnya bersiap untuk beristirahat. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan kelelahan berlanjut ke hari berikutnya.
Kombinasi Berbagai Jenis Kelelahan Mental
Rasa lelah setelah scrolling tidak berasal dari satu sumber. Sebaliknya, beberapa jenis kelelahan muncul secara bersamaan dan saling memperkuat dampaknya.
Pertama, kelelahan kognitif muncul akibat paparan informasi yang terus-menerus. Konsentrasi menurun dan kemampuan memproses informasi melambat. Kedua, kelelahan emosional berkembang karena paparan konten negatif dan tekanan sosial. Emosi menjadi lebih sensitif dan sulit stabil.
Ketiga, decision fatigue ikut berperan. Setiap keputusan kecil, seperti melanjutkan scrolling atau berhenti, menambah beban mental. Keempat, gangguan pemulihan tubuh terjadi ketika kebiasaan scrolling mengacaukan pola tidur. Kombinasi keempat faktor ini membuat tubuh terasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat.
Langkah Praktis Mengurangi Dampak Negatif Scrolling
Meskipun media sosial tidak dapat dihindari sepenuhnya, seseorang tetap dapat mengendalikan dampaknya. Langkah sederhana dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Pertama, atur akses terhadap aplikasi media sosial. Dengan menyembunyikan aplikasi dari layar utama, seseorang menciptakan jeda sebelum membuka media sosial. Kedua, alihkan kebiasaan scrolling tanpa tujuan ke aktivitas singkat lain, seperti peregangan ringan atau membaca beberapa halaman buku. Aktivitas ini membantu otak menerima rangsangan yang lebih seimbang.
Ketiga, tentukan waktu khusus untuk menggunakan media sosial. Jadwal yang jelas membantu membatasi durasi penggunaan dan mencegah scrolling impulsif. Dengan cara ini, otak memiliki ruang untuk beristirahat dan memulihkan energi mental secara bertahap.
Kesimpulan
Scrolling media sosial tidak selalu memberi efek menyegarkan. Sebaliknya, aktivitas ini sering memicu kelelahan mental melalui stimulasi berlebihan, tekanan emosional, dan gangguan ritme tubuh. Namun, dengan pengelolaan yang tepat, seseorang tetap dapat menikmati media sosial tanpa mengorbankan kesehatan mental. Pengendalian penggunaan menjadi kunci utama agar teknologi benar-benar mendukung kesejahteraan, bukan sebaliknya.