Masyarakat Luwu – akan menyambut peringatan Hari Jadi Luwu ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-80 pada Januari 2026. Panitia menetapkan Istana Kedatuan Luwu sebagai pusat kegiatan. Oleh karena itu, seluruh rangkaian acara akan terfokus di kawasan tersebut.

Peringatan ini memiliki makna strategis bagi masyarakat. Selain sebagai agenda tahunan, kegiatan ini juga menjadi sarana refleksi sejarah. Dengan demikian, masyarakat dapat mengenang perjalanan panjang Luwu sebagai wilayah adat yang berdaulat.

Istana Kedatuan Luwu sebagai pusat peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu 2026

ILUSTRASI

Tema Peringatan sebagai Dasar Kebersamaan

Panitia mengusung tema “Singkerru Ininnawa Lipu Dimeng Ede” dalam peringatan tahun ini. Tema tersebut menekankan persatuan hati dan kebersamaan. Oleh sebab itu, seluruh agenda kegiatan mengacu pada nilai persaudaraan dan harmoni sosial.

Selain itu, tema ini memperkuat identitas budaya Luwu. Masyarakat memandang adat sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, nilai budaya tetap relevan dalam kehidupan modern.

Rangkaian Kegiatan Selama Sepekan

Panitia menyusun rangkaian kegiatan selama tujuh hari. Kegiatan dimulai pada Senin, 19 Januari dan berakhir pada Ahad, 25 Januari 2026. Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, telah menyampaikan agenda ini kepada para kepala daerah.

Rangkaian kegiatan mencakup berbagai aspek budaya. Pertama, panitia menjadwalkan ziarah makam raja-raja Luwu. Kemudian, panitia menggelar seminar nasional yang membahas sejarah dan kebudayaan. Selanjutnya, masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan seni tradisional.

Di samping itu, panitia menghadirkan pameran UMKM. Kegiatan ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sementara itu, forum nasional keraton menjadi ruang dialog antar lembaga adat dari berbagai daerah.

Malam Puncak dan Anugerah Budaya Luwu 2026

Panitia merangkai malam puncak dengan Anugerah Budaya Luwu 2026. Oleh karena itu, acara ini menjadi bentuk apresiasi terhadap tokoh budaya. Panitia memberikan penghargaan kepada individu dan komunitas yang aktif melestarikan tradisi.

Selain itu, malam puncak juga memperkuat rasa bangga masyarakat. Acara ini menghadirkan pertunjukan budaya khas Luwu. Dengan demikian, nilai adat dapat tersampaikan secara estetis dan edukatif.

Upacara Puncak di Istana Kedatuan Luwu

Panitia menggelar upacara puncak pada 23 Januari 2026. Upacara berlangsung di halaman Istana Kedatuan Luwu. Oleh sebab itu, lokasi ini memiliki nilai simbolik yang kuat.

Upacara ini menampilkan tata adat secara utuh. Selanjutnya, setiap tahapan mengikuti aturan tradisi. Dengan demikian, upacara mencerminkan penghormatan terhadap sejarah dan adat Luwu.

Tradisi Mallekke Wae sebagai Pembuka Prosesi

Panitia membuka rangkaian adat dengan tradisi Mallekke Wae pada 19 Januari 2026. Tradisi ini memuat prosesi pengambilan air suci. Oleh karena itu, masyarakat memaknai air sebagai simbol kehidupan.

Puang Angkuru memimpin prosesi tersebut. Kemudian, rombongan membawa air menuju Istana Kedatuan Luwu. Selanjutnya, pasukan adat mengawal perjalanan dengan busana tradisional.

Selain itu, iringan gendang dan bendera adat menambah suasana sakral. Dengan demikian, prosesi ini menciptakan kekhidmatan dan kebersamaan.

Setibanya di istana, panitia menempatkan air suci di lokasi khusus. Selanjutnya, air tersebut menjalani prosesi maddojaroja. Tahapan ini melengkapi rangkaian ritual adat.

Ziarah Makam Datu Luwu sebagai Penguatan Sejarah

Setelah prosesi Mallekke Wae, panitia melanjutkan kegiatan dengan ziarah makam Datu Luwu. Lokasi ziarah berada di Pattimang, Kabupaten Luwu Utara. Oleh karena itu, lokasi ini memiliki nilai sejarah tinggi.

Penjaga makam memimpin prosesi sesuai adat. Selain itu, masyarakat mengikuti ziarah dengan penuh hormat. Kegiatan ini mengenalkan nilai kepemimpinan para leluhur.

Sementara itu, generasi muda memperoleh pembelajaran sejarah langsung. Dengan demikian, kesadaran sejarah dapat tumbuh sejak dini.

Pelestarian Budaya sebagai Tujuan Utama

Peringatan HJL dan HPRL Tahun 2026 menegaskan komitmen pelestarian budaya. Oleh sebab itu, panitia merancang kegiatan yang bersifat edukatif. Selain hiburan, kegiatan ini juga menyampaikan nilai filosofis.

Masyarakat terlibat aktif dalam seluruh rangkaian acara. Dengan demikian, rasa memiliki terhadap budaya daerah semakin kuat. Pada akhirnya, peringatan ini menjadi simbol keberlanjutan budaya Luwu di tengah perubahan zaman.