Masyarakat Desa Penggung – Kabupaten Boyolali, hingga kini masih menjaga tradisi Merti Dusun sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya ikatan sosial dan semangat kebersamaan warga desa. Salah satu kegiatan utama dalam Merti Dusun adalah pagelaran wayang kulit yang mengangkat lakon Sri Mulih.

Tradisi Wajib dalam Pagelaran Wayang Merti Dusun Desa-Penggung. (Foto dok Panitia)
Sejarah Merti Dusun Berbasis Kisah Leluhur Desa
Tradisi Merti Dusun berawal dari peristiwa sejarah yang dialami oleh leluhur Desa Penggung. Pada masa lalu, desa ini pernah mengalami wabah penyakit yang mengancam keselamatan warga. Dalam situasi tersebut, seorang tokoh masyarakat mengambil inisiatif untuk memindahkan lokasi permukiman desa demi keselamatan bersama.
Tokoh tersebut juga mengucapkan nazar untuk menyelenggarakan pagelaran wayang kulit apabila seluruh warga berhasil selamat dari wabah. Setelah kondisi desa kembali pulih dan masyarakat terbebas dari penyakit, warga menepati nazar tersebut dengan menggelar pertunjukan wayang. Sejak saat itu, masyarakat Desa Penggung secara konsisten melestarikan Merti Dusun dan menjadikannya tradisi tahunan yang diwariskan lintas generasi.
Pagelaran Wayang Kulit sebagai Sarana Edukasi Budaya
Dalam pelaksanaan Merti Dusun tahun ini, masyarakat menyelenggarakan dua pagelaran wayang kulit dalam satu hari. Pada siang hari, warga menyaksikan lakon Sri Mulih yang menggambarkan kembalinya keharmonisan hidup. Pada malam hari, dalang membawakan lakon Bima Bungkus yang sarat pesan tentang keteguhan dan pengorbanan.
Dalang Tantut Sutanto memimpin jalannya pertunjukan dengan gaya tutur yang komunikatif sehingga penonton dari berbagai usia dapat menikmati cerita. Melalui pertunjukan ini, masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mempelajari nilai-nilai moral, filosofi hidup, dan ajaran luhur budaya Jawa.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Utama Pelaksanaan Tradisi
Masyarakat Desa Penggung menjalankan seluruh rangkaian Merti Dusun dengan mengedepankan semangat gotong royong. Warga secara sukarela berpartisipasi dalam penggalangan dana, persiapan acara, hingga pelaksanaan kegiatan. Dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp95 juta dan sepenuhnya berasal dari kontribusi masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa warga tidak bergantung sepenuhnya pada dana desa dalam melestarikan budaya. Melalui keterlibatan langsung, masyarakat menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi dan memperkuat solidaritas sosial. Nilai gotong royong tersebut juga menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
Rangkaian Kegiatan Sosial, Seni, dan Ekonomi
Panitia Merti Dusun memulai rangkaian kegiatan dengan kerja bakti membersihkan lingkungan dari RW 7 hingga RW 11. Kegiatan ini bertujuan menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Pada hari berikutnya, anak-anak sekolah dasar menampilkan pentas karawitan sebagai bentuk pembinaan seni sejak dini.
Pada malam harinya, kelompok karawitan warga dewasa turut memeriahkan suasana dengan memainkan gending-gending tradisional. Selain itu, masyarakat juga melaksanakan ritual di Kepunden, yaitu petilasan sesepuh desa, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun desa.
Dari sisi ekonomi, panitia menyelenggarakan bazar dan pasar murah di sepanjang jalan desa. Kegiatan ini melibatkan pelaku UMKM lokal maupun dari luar desa. Melalui bazar tersebut, masyarakat memperoleh peluang untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkenalkan produk unggulan mereka kepada pengunjung.
Merti Dusun sebagai Potensi Wisata Budaya Berkelanjutan
Saat ini, masyarakat Desa Penggung tidak hanya memaknai Merti Dusun sebagai ritual adat, tetapi juga mengembangkannya sebagai potensi wisata budaya. Dengan pengelolaan yang tepat, tradisi ini mampu menarik minat masyarakat luas dan memberikan dampak positif bagi perekonomian desa.
Melalui kerja keras, kerja cerdas, dan partisipasi aktif masyarakat, Desa Penggung berupaya mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan sejahtera tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya leluhur. Tradisi Merti Dusun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.