Hutan Digital – Sektor pariwisata di Belitung tidak hanya menawarkan pantai, tetapi juga menghadirkan wisata alam berbasis edukasi. Salah satu destinasi yang menonjol adalah Desa Wisata Bukit Peramun yang berada di Desa Air Selumar, Kepulauan Bangka Belitung. Kawasan ini menggabungkan wisata alam, edukasi lingkungan, dan teknologi digital dalam satu sistem yang saling terintegrasi.
Pengunjung menikmati berbagai aktivitas di kawasan ini, seperti trekking di hutan alami, naik ke puncak bukit, hingga mengamati satwa endemik seperti Tarsius. Selain itu, setiap bagian hutan menyediakan informasi edukatif yang pengunjung akses secara interaktif melalui sistem digital.
Transformasi Digital dalam Pengelolaan Wisata Alam
Masyarakat mulai mengelola Desa Wisata Bukit Peramun sejak 2006. Mereka kemudian mengembangkan konsep wisata berbasis digital pada 2023 untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Langkah ini muncul karena pemandu wisata sering menghadapi kesulitan saat menjelaskan informasi berulang kepada wisatawan.
Sebelumnya, pemandu menjelaskan informasi secara langsung kepada setiap kelompok wisatawan. Namun, kondisi tersebut membuat penyampaian informasi menjadi kurang efisien. Oleh karena itu, pengelola mulai mencari cara agar informasi dapat tersampaikan secara lebih cepat dan menarik.
Pengembangan Hutan Digital Berbasis Komunitas
Pengelola mengembangkan konsep hutan digital untuk menjawab tantangan tersebut. Pada tahap awal, mereka menggunakan sistem barcode untuk membantu pengunjung mengakses informasi pohon. Namun, banyak wisatawan tidak memanfaatkan sistem tersebut karena mereka enggan membaca teks panjang.
Setelah itu, pengelola meluncurkan aplikasi Android bernama “Kepo” atau Kenali Pohon. Aplikasi ini memungkinkan pengunjung memindai penanda pohon untuk mendapatkan informasi secara langsung. Sistem ini menampilkan gambar, audio, dan keterangan dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris.
Pengelola merancang sistem ini agar pengunjung lebih mudah memahami informasi. Wisatawan kini dapat mengenali jenis pohon melalui visual dan suara tanpa bergantung pada penjelasan panjang dari pemandu.

Primata kecil bernama Tarsius yang dapat ditemui di Bukit Peramun Belitung. Namun Tarsius hanya dapat dilihat di malam hari.
Konsep Ramah Lingkungan dalam Pengelolaan Wisata
Pengelola di Desa Wisata Bukit Peramun menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam setiap pengembangan. Mereka tidak menggunakan paku atau kawat pada pohon. Sebagai gantinya, mereka memakai cat sederhana untuk penanda.
Pengelola juga merancang penanda agar mudah diperbarui tanpa merusak pohon. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara teknologi dan konservasi alam. Selain itu, kawasan ini meraih penghargaan Green Gold dalam Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019 karena komitmennya terhadap lingkungan.
Perubahan Strategi Wisata Berbasis Komunitas
Pengelola mengubah strategi wisata dari model massal menjadi berbasis komunitas setelah pandemi Covid-19. Mereka menyesuaikan konsep agar wisata tetap berjalan meskipun jumlah pengunjung menurun.
Meskipun jumlah wisatawan berkurang, pengelola berhasil meningkatkan pendapatan hingga 60–70 persen. Mereka mencapai hasil ini dengan menawarkan paket wisata bernilai tambah yang memberikan pengalaman lebih mendalam.
Pengelola juga menetapkan berbagai pilihan paket wisata, mulai dari trekking sederhana hingga pengalaman lengkap dengan harga lebih tinggi. Dengan strategi ini, mereka tidak lagi bergantung pada jumlah wisatawan, tetapi pada kualitas pengalaman yang mereka tawarkan.
Perubahan Profil Wisatawan Internasional
Perubahan konsep wisata juga mengubah profil pengunjung Desa Wisata Bukit Peramun. Saat ini, wisatawan mancanegara mendominasi kunjungan dengan persentase sekitar 60–70 persen.
Wisatawan datang dari berbagai negara, terutama Eropa dan Asia. Dari Eropa, pengunjung terbanyak berasal dari Italia, Prancis, dan Belanda. Sementara itu, wisatawan Asia datang dari China, Jepang, dan Korea.
Dukungan Infrastruktur dan Kolaborasi
Pengembangan kawasan ini mendapat dukungan dari sektor swasta, termasuk PT Bank Central Asia Tbk. Sejak 2018, mereka membantu menyediakan infrastruktur digital seperti server dan domain aplikasi.
Namun demikian, masyarakat tetap mengelola seluruh operasional wisata. Mereka memegang peran utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Kolaborasi antara teknologi, komunitas, dan alam membentuk kekuatan utama Bukit Peramun.
Kesimpulan
Desa Wisata Bukit Peramun menunjukkan bahwa inovasi dan pelestarian alam dapat berjalan berdampingan. Pengelola menggabungkan teknologi digital dengan pendekatan berbasis komunitas untuk meningkatkan pengalaman wisata. Selain itu, mereka tetap menjaga keseimbangan lingkungan melalui praktik konservasi yang konsisten. Dengan model ini, Bukit Peramun berhasil menjadi contoh wisata alam modern yang berkelanjutan dan edukatif.