Banjir Rob – wilayah pesisir Indonesia menghadapi tantangan besar berupa banjir pesisir atau rob, terutama ketika pasang laut mencapai titik maksimum. Kondisi ini kerap muncul akibat interaksi antara faktor cuaca dan dinamika astronomi. Pada Februari 2026, masyarakat pesisir Kalimantan Selatan menghadapi ancaman banjir rob dengan ketinggian air laut yang signifikan, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan sejak dini.
Banjir rob terjadi saat air laut meluap ke daratan pesisir dan menggenangi wilayah dengan elevasi rendah. Fenomena ini sering mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, serta menurunkan kualitas lingkungan permukiman. Oleh karena itu, pemahaman terhadap penyebab dan waktu terjadinya rob menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi risiko bencana.
Imbauan Kewaspadaan dari BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengimbau masyarakat Kalimantan Selatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob pada periode 16 hingga 24 Februari 2026. Analisis pasang surut menunjukkan bahwa tinggi muka air laut dapat mencapai sekitar 2,6 meter pada periode tersebut.
Wilayah pesisir Kabupaten Kotabaru, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu termasuk daerah yang paling rentan terdampak. Karakteristik geografis berupa dataran rendah membuat kawasan ini mudah tergenang saat air laut pasang. Oleh karena itu, BMKG mendorong masyarakat pesisir untuk menyesuaikan aktivitas dan memperhatikan perkembangan informasi cuaca serta pasang surut.

Seorang warga beraktivitas di tengah genangan air banjir rob dan curah hujan yang tinggi di Banjarmasin Selatan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.
Pengaruh Fase Bulan Baru terhadap Pasang Laut
Fase bulan baru memiliki peran penting dalam meningkatkan tinggi pasang air laut. Pada 17 Februari 2026, posisi bulan dan matahari berada pada satu garis dengan bumi, sehingga gaya tarik gravitasi bekerja lebih kuat terhadap massa air laut. Kondisi ini mendorong terjadinya pasang maksimum yang lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
BMKG memantau data ketinggian air laut secara berkala dan mengidentifikasi waktu-waktu kritis pasang maksimum. Puncak pasang diperkirakan terjadi pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga 10.00 Wita serta pada sore hingga malam hari sekitar pukul 18.00 hingga 20.00 Wita. Pada rentang waktu tersebut, air laut berpotensi meluap ke daratan pesisir.
Dampak terhadap Permukiman dan Aktivitas Ekonomi
Kenaikan muka air laut hingga 2,6 meter dapat memicu genangan di kawasan permukiman pesisir. Air laut berisiko merendam rumah warga, jalan akses, serta fasilitas umum yang berada dekat garis pantai. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan hidup, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur.
Selain permukiman, aktivitas pelabuhan dan tambatan perahu juga menghadapi risiko gangguan. Pasang laut tinggi dapat menyulitkan proses bongkar muat barang dan meningkatkan risiko kerusakan kapal. Oleh karena itu, otoritas pelabuhan dan pelaku transportasi laut perlu menyesuaikan jadwal operasional agar tetap menjaga keselamatan.
Sektor perikanan juga memerlukan perhatian khusus. Nelayan perlu mempertimbangkan kondisi pasang surut sebelum melaut, terutama pada jam-jam puncak pasang. Penyesuaian waktu melaut dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan di laut maupun kerugian ekonomi.
Potensi Cuaca Buruk yang Menyertai
Selain ancaman banjir rob, BMKG juga mencermati potensi cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan pada periode yang sama. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang muncul dan dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang. Kondisi cuaca ini dapat memperparah dampak genangan, terutama di wilayah dengan sistem drainase terbatas.
Beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan Balangan masuk dalam wilayah yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Cuaca ekstrem di daerah hulu berpotensi meningkatkan aliran air menuju wilayah hilir dan pesisir, sehingga risiko banjir dapat meningkat.
Peran Mitigasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Pemerintah daerah memegang peran penting dalam upaya mitigasi bencana rob. Langkah-langkah seperti pengecekan drainase, penguatan tanggul pesisir, serta penyebaran informasi peringatan dini dapat membantu mengurangi dampak bencana. Koordinasi lintas instansi juga menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Di sisi lain, masyarakat pesisir perlu berperan aktif dengan memantau informasi resmi dari BMKG. Penyesuaian aktivitas harian, terutama yang berkaitan dengan laut dan pesisir, dapat menurunkan risiko kerugian. Kesiapsiagaan bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam menghadapi ancaman banjir rob.
Kesimpulan
Ancaman banjir rob hingga 2,6 meter di wilayah pesisir Kalimantan Selatan pada Februari 2026 menegaskan pentingnya kesiapsiagaan terhadap fenomena alam yang dipengaruhi faktor astronomi dan cuaca. Dengan memahami waktu pasang maksimum, potensi dampak, serta langkah antisipasi yang tepat, masyarakat dan pemerintah dapat mengurangi risiko bencana secara signifikan. Pemantauan informasi resmi dan respons cepat akan membantu menjaga keselamatan serta keberlanjutan aktivitas di wilayah pesisir.