Pemerintah Venezuela – melakukan diskusi serius dengan Amerika Serikat mengenai ekspor minyak mentah Venezuela menuju kilang minyak di wilayah AS. Reuters menerima keterangan tersebut dari lima narasumber yang berasal dari kalangan pemerintahan, industri minyak, dan sektor pelayaran pada Selasa, 6 Januari 2026. Selain itu, kesepakatan ini membuka peluang besar bagi kedua negara untuk membangun jalur perdagangan energi yang lebih stabil. Selama itu, langkah tersebut memberikan solusi atas penumpukan pasokan minyak Venezuela yang masih tertahan di berbagai lokasi penyimpanan.

Pegawai kilang minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengikuti latihan mitigasi bencana dan serangan bersenjata di El Palito, Puerto Cabello, Negara Bagian Carabobo, 27 September 2025.(AFP)
Dampak Blokade Ekspor Amerika Serikat
Saat ini, Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang terperangkap di kapal tanker dan tangki penyimpanan. Akan tetapi, minyak itu tidak dapat terkirim karena Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade ekspor pada pertengahan Desember 2025. Oleh sebab itu, perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, menghadapi kesulitan untuk mempertahankan tingkat produksi. Sementara itu, kapasitas penyimpanan nasional mencapai batas maksimal. Akibatnya, PDVSA mempertimbangkan pemangkasan produksi lebih dalam jika pemerintah tidak menemukan jalur ekspor baru dalam waktu dekat.
Potensi Pengalihan Pasokan dari China
Sejak beberapa tahun terakhir, China memegang posisi sebagai pembeli utama minyak Venezuela. Namun, jika pembicaraan dengan AS menghasilkan kesepakatan, Venezuela mengalihkan kargo minyak yang semula memiliki tujuan menuju China kepada pembeli dari Amerika Serikat. Selain itu, pengalihan tersebut mengurangi ketergantungan Venezuela terhadap pasar Asia. Dengan demikian, PDVSA mendapatkan kesempatan untuk menjual pasokan yang tertahan tanpa melakukan pemotongan produksi tambahan. Selama satu dekade, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela, terutama setelah AS menjatuhkan sanksi perdagangan minyak pada 2020.
Tekanan Politik Washington terhadap Maduro
Selanjutnya, blokade ekspor minyak tersebut berkaitan erat dengan situasi politik antara Washington dan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Selain itu, peningkatan ketegangan mencapai puncak pada akhir pekan lalu. Reuters melaporkan penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Sabtu, 3 Januari 2026. Oleh karena itu, pemerintah Venezuela menilai tindakan itu sebagai penculikan. Akan tetapi, Washington menggunakan kebijakan energi sebagai alat tekanan terhadap kepemimpinan Maduro. Meskipun begitu, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih, pemerintah Venezuela, maupun PDVSA mengenai perkembangan pembicaraan ekspor minyak pekan ini.
Peran Chevron dalam Aliran Minyak ke AS
Sementara itu, ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat tetap berjalan melalui perusahaan Chevron. Chevron menjadi mitra usaha patungan utama PDVSA dan beroperasi berdasarkan izin khusus dari pemerintah AS. Selain itu, perusahaan tersebut mengekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barel minyak per hari ke kilang Amerika Serikat. Oleh sebab itu, Chevron menjadi satu-satunya pihak yang memuat dan mengirim minyak Venezuela dengan relatif lancar di tengah blokade. Akan tetapi, PDVSA tidak dapat mengekspor minyak sendiri karena sanksi masih mengikat status perusahaan tersebut.
Kemampuan Kilang Minyak Amerika Serikat
Kilang minyak di kawasan Pantai Teluk AS mampu mengolah minyak mentah berat yang berasal dari Venezuela. Selain itu, fasilitas kilang di Amerika Serikat memiliki pengalaman panjang dalam mengolah jenis minyak tersebut. Sebelum sanksi energi berlaku, Amerika Serikat mengimpor sekitar 500.000 barel minyak Venezuela per hari. Dengan demikian, rencana ekspor baru ini menemukan dasar teknis yang kuat. Akan tetapi, skema pembayaran dan mekanisme penjualan masih memerlukan kejelasan lebih lanjut agar tidak melanggar ketentuan sanksi yang berlaku.
Skema Penjualan yang Dibahas
Menurut sumber Reuters, pembicaraan mencakup beberapa skema penjualan minyak Venezuela kepada pembeli AS. Selain itu, pemerintah mempertimbangkan mekanisme lelang untuk menarik minat perusahaan Amerika Serikat. Selanjutnya, penerbitan lisensi khusus kepada mitra bisnis PDVSA menjadi topik penting dalam diskusi. Dengan demikian, kontrak pasokan jangka panjang mendapat peluang realisasi. Selain itu, kedua pihak membahas kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat pada masa depan. Akan tetapi, PDVSA tetap membutuhkan kepastian hukum agar dapat menerima hasil penjualan secara aman.
Situasi Ekspor ke Asia Mengalami Kelumpuhan
Faktanya, pelabuhan utama ekspor minyak Venezuela memasuki hari kelima tanpa pengiriman minyak menuju pelanggan di Asia. Oleh sebab itu, pasar utama Venezuela di kawasan tersebut mengalami kelumpuhan total. Akan tetapi, Chevron kembali melanjutkan ekspor minyak Venezuela ke AS pada Senin, 5 Januari 2026 setelah penghentian sementara selama empat hari. Selain itu, perusahaan memanggil pekerja kembali ke kantor di Venezuela seiring pembukaan penerbangan internasional. Dengan demikian, aktivitas ekspor ke Amerika Serikat menunjukkan tanda pemulihan lebih cepat dibandingkan jalur ekspor ke Asia.
Tantangan Pelayaran Mode Gelap
Data pelayaran menunjukkan setidaknya selusin kapal tanker yang memuat minyak Venezuela pada Desember 2025 meninggalkan perairan Venezuela pada awal Januari 2026. Kapal-kapal itu membawa sekitar 12 juta barel minyak dan bahan bakar menuju China. Akan tetapi, kapal tanker tersebut mematikan transponder dan berlayar dalam mode gelap. Oleh sebab itu, tindakan tersebut menimbulkan dugaan pelanggaran terhadap blokade tanker Amerika Serikat. Washington belum memberikan penjelasan apakah keberangkatan kapal-kapal itu menerima izin resmi. Selain itu, PDVSA belum menyampaikan komentar terkait langkah pelayaran tersebut. Dengan demikian, tantangan hukum dan politik masih menyertai masa depan ekspor minyak Venezuela.
Kesimpulan Sementara
Selanjutnya, pembicaraan ekspor minyak antara Venezuela dan Amerika Serikat menawarkan harapan baru bagi sektor energi Venezuela. Oleh sebab itu, PDVSA mendapatkan kesempatan untuk mengurangi penumpukan pasokan tanpa mengorbankan produksi nasional. Dengan demikian, kerja sama energi ini memberikan manfaat ekonomi bagi Venezuela dan kebutuhan pasokan bagi kilang Amerika Serikat. Akan tetapi, proses diskusi memerlukan waktu tambahan untuk menghasilkan kesepakatan final yang menguntungkan semua pihak.