Pemerintah China – mendesak Amerika Serikat untuk menanggapi secara positif tawaran Rusia terkait pembatasan jumlah hulu ledak nuklir strategis. Seruan ini muncul menjelang berakhirnya perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) pada 5 Februari 2026.
Selama lebih dari satu dekade, New START berperan penting dalam menjaga stabilitas strategis global. Perjanjian ini mengatur hubungan nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, dua negara yang menguasai sebagian besar senjata nuklir dunia. Tanpa kesepakatan pengganti, dunia menghadapi risiko meningkatnya ketegangan dan eskalasi militer.
China Menolak Keterlibatan dalam Perundingan Trilateral
China secara tegas menolak ajakan untuk bergabung dalam perundingan pengendalian senjata nuklir trilateral bersama Amerika Serikat dan Rusia. Presiden AS Donald Trump berulang kali mendorong Beijing agar ikut serta, tetapi China tetap mempertahankan sikapnya.
Beijing menilai perbedaan besar dalam jumlah persenjataan nuklir sebagai alasan utama penolakan tersebut. China menganggap kekuatan nuklirnya belum berada pada tingkat yang setara dengan Amerika Serikat maupun Rusia. Oleh karena itu, pemerintah China menilai tuntutan keterlibatan dalam perundingan trilateral sebagai langkah yang tidak adil.
Meski menolak ikut serta, China tetap memperhatikan usulan Rusia terkait pengaturan lanjutan setelah New START berakhir. Beijing berharap Washington merespons tawaran tersebut demi menjaga stabilitas strategis global.

Presiden Donald Trump menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Alaska, Amerika Serikat, Jumat (15/8/2025).
Peran Penting New START dalam Pengendalian Senjata
Amerika Serikat dan Rusia menandatangani New START pada 2010. Perjanjian ini mulai berlaku pada 2011 dan membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan masing-masing negara hingga 1.550 unit. Selain itu, kesepakatan ini mengatur jumlah peluncur dan sistem senjata strategis.
New START juga menerapkan mekanisme transparansi yang ketat. Kedua negara melakukan inspeksi langsung, pertukaran data, dan pemberitahuan resmi secara berkala. Mekanisme ini membantu mencegah kesalahpahaman dan salah perhitungan strategis.
Namun, hubungan AS–Rusia yang memburuk menghentikan inspeksi sejak 2023. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian menjelang berakhirnya perjanjian.
Sikap Amerika Serikat dan Rusia Menjelang Berakhirnya Perjanjian
Hingga kini, Presiden Donald Trump belum menyatakan kesediaan menerima tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang pembatasan senjata secara informal selama satu tahun. Trump menyatakan keinginannya untuk merancang kesepakatan baru yang menurutnya lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat.
Sementara itu, pemerintah Rusia menyatakan kesiapan menghadapi dunia tanpa pembatasan senjata nuklir. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menegaskan bahwa Moskow telah menyiapkan semua langkah yang diperlukan. Ia juga menilai sikap diam Amerika Serikat sebagai bentuk respons politik.
Ryabkov menyampaikan pernyataan tersebut saat mengunjungi Beijing untuk bertemu pejabat tinggi China. Dalam pertemuan itu, kedua negara menegaskan komitmen menjaga stabilitas strategis global.
Ancaman Perlombaan Senjata Nuklir Tiga Arah
Sejumlah analis menilai berakhirnya New START dapat memicu perlombaan senjata nuklir baru. Perlombaan ini berpotensi melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan China secara bersamaan.
Peneliti dari Carnegie Endowment for International Peace menyebut Washington ingin mempertahankan fleksibilitas dalam menambah jumlah hulu ledak nuklir. Kekhawatiran utama Amerika Serikat tertuju pada percepatan pembangunan kekuatan nuklir China.
Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan China memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir. Sejak 2023, China menambah sekitar 100 hulu ledak setiap tahun, menjadikannya negara dengan pertumbuhan arsenal tercepat.
Dampak Global dan Risiko Proliferasi Nuklir
Tanpa New START, Amerika Serikat memiliki ruang lebih besar untuk menambah hulu ledak pada sistem persenjataan yang sudah ada. Rusia juga terus mengembangkan sistem peluncuran nuklir baru, termasuk senjata nontradisional dengan risiko tinggi.
Para pakar keamanan menilai ketiadaan mekanisme verifikasi meningkatkan risiko salah perhitungan strategis. Kondisi ini dinilai lebih berbahaya dibandingkan situasi Perang Dingin.
Analis dari Australian Strategic Policy Institute menyatakan bahwa perlombaan senjata nuklir tiga arah akan sangat tidak stabil. Minimnya transparansi memperbesar kemungkinan konflik yang tidak disengaja.
Kesimpulan
Berakhirnya New START menandai perubahan besar dalam tatanan keamanan global. Runtuhnya perjanjian pengendalian senjata meningkatkan ketidakpastian internasional. Dalam situasi ini, keputusan Amerika Serikat, Rusia, dan China akan menentukan arah stabilitas strategis dunia di masa mendatang.