Barcelona – kembali menghadapi dinamika internal yang cukup menyita perhatian. Situasi ini muncul setelah salah satu talenta muda akademi, Dro Fernandez, memilih meninggalkan klub. Keputusan tersebut memicu reaksi emosional dari gelandang muda andalan Barcelona, Gavi, yang merasa klub tidak memberi ruang berkembang yang memadai bagi pemain akademi.
Sebagai pemain yang tumbuh dari sistem pembinaan internal, Gavi memiliki ikatan kuat dengan filosofi klub. Oleh karena itu, kepergian pemain muda potensial dari akademi menjadi isu sensitif baginya. Situasi ini mencerminkan tantangan Barcelona dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan prestasi dan komitmen terhadap regenerasi pemain.
Peran Gavi di Tengah Situasi Internal Tim
Gavi menembus tim utama Barcelona pada usia sangat muda. Sejak saat itu, ia di kenal sebagai pemain dengan karakter kuat, vokal, dan penuh determinasi. Meski saat ini masih menjalani pemulihan cedera lutut pasca operasi meniskus, Gavi tetap aktif terlibat dalam dinamika tim.
Cedera tidak menghalangi Gavi untuk menyuarakan pandangannya. Ia terus menunjukkan kepedulian terhadap arah kebijakan klub, terutama yang menyangkut masa depan pemain muda. Dalam situasi ini, Gavi melihat kepergian Dro Fernandez sebagai kehilangan besar bagi Barcelona.

Gelandang Barcelona berdarah Filipina, Dro Fernandez.
Alasan Dro Fernandez Meninggalkan Barcelona
Dro Fernandez, pemain berusia 18 tahun yang berkembang di La Masia, memutuskan hengkang pada bursa transfer Januari. Ia menerima tawaran dari Paris Saint-Germain dengan nilai transfer sekitar 8,5 juta euro.
Dro mengambil keputusan tersebut setelah menilai jalannya menuju tim utama Barcelona semakin tertutup. Persaingan di lini tengah meningkat seiring kehadiran pemain seperti Fermin Lopez dan Dani Olmo. Kondisi ini membuat Dro sulit mendapatkan menit bermain yang konsisten.
Bagi pemain muda, kesempatan tampil secara reguler sangat penting untuk perkembangan karier. Ketika peluang tersebut tidak kunjung datang, Dro memilih mencari tantangan baru demi masa depannya.
Kekecewaan Gavi terhadap Kebijakan Pelatih
Menurut laporan media Catalunya, Gavi secara langsung menyampaikan kekecewaannya kepada staf pelatih. Ia menilai klub tidak memaksimalkan potensi Dro Fernandez. Dalam pandangan Gavi, tim seharusnya memberi Dro lebih banyak kesempatan bermain agar ia merasa dihargai dan yakin bertahan di Barcelona.
Gavi juga menyoroti beberapa pertandingan yang dinilainya ideal untuk memberi menit bermain kepada pemain muda. Salah satunya adalah laga Copa del Rey melawan Guadalajara. Dalam pertandingan tersebut, staf pelatih tidak menurunkan Dro sama sekali.
Bagi Gavi, pertandingan dengan tekanan relatif rendah seperti itu dapat membantu pemain muda menambah pengalaman. Ia melihat momen tersebut sebagai peluang yang terlewatkan oleh tim pelatih.
Meski Gavi dan Dro berada di bawah naungan agen yang sama, Ivan de la Pena, sumber internal menyebutkan bahwa reaksi Gavi lahir dari kepedulian terhadap masa depan akademi. Ia merasa kehilangan rekan setim yang memiliki potensi besar untuk berkembang bersama Barcelona.
Sudut Pandang Hansi Flick terhadap Situasi Dro
Di sisi lain, pelatih kepala Barcelona, Hansi Flick, memandang situasi ini dari perspektif berbeda. Flick merasa dirinya telah memberikan kepercayaan yang cukup kepada Dro Fernandez sejak awal.
Flick secara aktif mempromosikan Dro dari tim U-19 ke lingkungan tim utama. Ia bahkan memberi Dro kesempatan tampil bersama skuad senior dan membawanya dalam tur pramusim. Flick juga memilih Dro dibanding beberapa pemain Barcelona Atletic sebagai bagian dari rencana jangka pendek tim.
Bagi Flick, langkah tersebut menunjukkan komitmen klub dalam mengembangkan pemain muda. Namun, ia juga menilai bahwa persaingan di level tertinggi menuntut kesabaran dan kesiapan mental. Tidak semua pemain bisa langsung mendapat peran utama dalam tim sekelas Barcelona.
Tantangan Barcelona dalam Mengelola Regenerasi
Kasus Dro Fernandez menunjukkan dilema yang terus dihadapi Barcelona. Klub harus tetap kompetitif di level tertinggi, namun juga perlu menjaga identitas sebagai penghasil talenta muda. Ketegangan antara kebutuhan hasil instan dan visi jangka panjang sering memicu konflik internal.
Kekecewaan Gavi mencerminkan suara generasi muda Barcelona yang ingin melihat akademi tetap menjadi fondasi tim utama. Sementara itu, pendekatan Hansi Flick menggambarkan realitas sepak bola modern yang menuntut efisiensi dan hasil cepat.
Ke depan, Barcelona perlu membangun komunikasi yang lebih baik antara pemain muda dan staf pelatih. Dengan manajemen ekspektasi yang tepat, klub dapat mencegah hilangnya talenta potensial sekaligus menjaga stabilitas internal. Keberhasilan Barcelona dalam menyeimbangkan dua kepentingan ini akan sangat menentukan arah klub di masa mendatang.