5 Sejnata Tradisional – di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern, warisan budaya daerah tetap memegang peranan penting. Oleh karena itu, masyarakat Lampung terus menjaga senjata tradisional sebagai bagian dari identitas dan sejarah daerah. Senjata-senjata ini tidak hanya menunjukkan keterampilan seni, tetapi juga mencerminkan nilai spiritual dan filosofi hidup masyarakat setempat.

Selain memiliki nilai budaya, senjata tradisional Lampung juga berkaitan erat dengan sejarah perjuangan. Secara khusus, beberapa senjata memiliki hubungan langsung dengan perlawanan terhadap penjajahan Belanda pada abad ke-19. Dalam konteks ini, perjuangan yang dipimpin oleh Raden Inten II menjadikan senjata tradisional sebagai alat penting dalam mempertahankan wilayah Lampung. Dengan demikian, senjata-senjata tersebut tidak dapat di pisahkan dari narasi sejarah daerah.

Peran Senjata Tradisional dalam Perlawanan Masyarakat Lampung

Pada masa kolonial, masyarakat Lampung menggunakan senjata tradisional untuk menjaga kedaulatan wilayah. Meskipun mereka menghadapi keterbatasan teknologi, para pejuang tetap menunjukkan daya juang tinggi. Selain itu, mereka memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan alat pertahanan yang efektif.

Lebih lanjut, senjata tradisional tidak hanya berfungsi sebagai alat tempur. Sebaliknya, senjata tersebut juga berperan sebagai simbol keberanian dan keteguhan hati. Para pejuang menyertakan nilai kepercayaan dan doa dalam setiap penggunaan senjata. Dengan cara ini, senjata berfungsi ganda sebagai pelindung fisik dan penguat mental.

Senjata tradisional Lampung yang digunakan dalam perjuangan Raden Inten II

Foto: Pedang yang dipakai Raden Inten II

Pedang Punggawa Raden Inten II dan Makna Spiritual

Salah satu senjata tradisional Lampung yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah pedang yang di gunakan oleh punggawa Raden Inten II. Pada masa itu, para punggawa memanfaatkan pedang ini dalam perlawanan terhadap pasukan Belanda. Akibatnya, pedang tersebut menjadi simbol penting perjuangan rakyat Lampung.

Keunikan pedang ini tampak jelas pada bilahnya. Di sana, pengrajin mengukir kaligrafi Arab dari Surah Yasin ayat 82. Ayat ini menegaskan kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, para pejuang menjadikan pedang ini sebagai pengingat bahwa perjuangan mereka bergantung pada kehendak Ilahi. Dengan keyakinan tersebut, pedang berfungsi sebagai sumber keberanian dan harapan.

Meriam Lampung sebagai Sistem Pertahanan Strategis

Selain senjata tajam, masyarakat Lampung juga mengenal meriam sebagai alat pertahanan. Seiring masuknya pengaruh bangsa Barat dan teknologi mesiu, masyarakat mulai mengadaptasi penggunaan meriam. Kemudian, para pejuang Lampung memanfaatkan senjata ini untuk menjaga benteng pertahanan.

Meriam Lampung hadir dalam berbagai ukuran. Pada satu sisi, meriam besar berfungsi untuk menjaga benteng utama. Di sisi lain, meriam kecil atau meriam bumbung digunakan dalam skala terbatas. Pasukan Raden Inten II menempatkan meriam di lokasi strategis seperti Benteng Merambung dan Galah Tanah. Dengan strategi tersebut, masyarakat Lampung menunjukkan kemampuan pertahanan yang terorganisasi.

Candung sebagai Golok Tradisional Multifungsi

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Lampung mengenal golok dengan sebutan candung atau laduk. Umumnya, masyarakat menggunakan candung untuk keperluan dapur dan pertanian. Berdasarkan fungsinya, candung terbagi menjadi golok dapur, golok ladang, dan candung istimewa.

Meskipun sumber tertulis belum mencatat candung sebagai senjata utama perang, namun demikian, candung istimewa memiliki potensi sebagai alat bela diri. Kandungan baja yang tinggi membuatnya sangat tajam. Selain itu, ukurannya yang relatif pendek memudahkan pengguna membawanya. Dengan karakteristik tersebut, candung istimewa dapat berfungsi sebagai senjata tikam dalam kondisi tertentu.

Badik Lampung dan Keunggulan Bentuknya

Badik merupakan senjata tradisional Lampung yang dikenal luas oleh masyarakat. Secara bentuk, badik menyerupai pisau dengan gagang melengkung dan ujung mata pisau yang membengkok. Pengrajin tradisional menggunakan baja berkualitas tinggi untuk membuat badik.

Selain itu, sebagian badik lama mengandung warangan yang dipercaya memperparah luka. Karena alasan tersebut, masyarakat Lampung memandang badik sebagai senjata yang berbahaya. Berdasarkan ukurannya, masyarakat membedakan badik kecil dan siwokh. Dengan perbedaan ini, badik dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi.

Payan sebagai Senjata Tradisional Tertua Lampung

Payan termasuk salah satu senjata tradisional tertua di Lampung. Berdasarkan temuan arkeologis, situs Pugung Raharjo dan Benteng Sari menunjukkan penggunaan payan sejak berabad-abad lalu. Pada masa itu, prajurit Kerajaan Tulang Bawang memanfaatkan payan sebagai senjata utama.

Payan berbentuk tombak dengan gagang panjang sekitar 150 hingga 180 sentimeter. Selain itu, mata tombaknya memiliki ujung runcing dan lancip. Dengan desain tersebut, payan efektif digunakan untuk pertempuran jarak menengah maupun jarak jauh.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, senjata tradisional Lampung mencerminkan identitas budaya, nilai spiritual, dan semangat perjuangan masyarakat. Dengan adanya pedang punggawa Raden Inten II, meriam Lampung, candung, badik, dan payan, sejarah perlawanan Lampung tetap terjaga. Pada akhirnya, pelestarian senjata tradisional memastikan warisan budaya ini terus hidup dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.