Mi Sorgum – pemerintah terus mendorong penguatan ketahanan pangan nasional dengan memperluas sumber pangan alternatif. Dalam upaya tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil peran aktif dengan mengembangkan diversifikasi pangan nonberas. Salah satu langkah nyata yang di lakukan adalah pelaksanaan pelatihan alih teknologi mi bebas gluten berbasis sorgum yang di gelar di Kawasan Sains Muhammadi Siswosudarmo, Subang, pada Januari 2026.

Melalui kegiatan ini, BRIN berupaya mempercepat pemanfaatan hasil riset agar dapat langsung diterapkan oleh industri dan pelaku usaha. Pendekatan ini menegaskan komitmen BRIN dalam menjadikan riset sebagai motor penggerak inovasi pangan nasional yang berkelanjutan dan mandiri.

Kolaborasi Riset Lintas Disiplin dan Mitra Industri

Pusat Riset Teknologi Proses di bawah Organisasi Riset Energi dan Manufaktur memprakarsai pelatihan tersebut dengan melibatkan periset lintas bidang. Para peneliti dari teknologi proses, teknologi manufaktur peralatan, dan kimia molekuler bekerja secara kolaboratif untuk mengembangkan formulasi dan proses produksi mi sorgum yang efisien.

Selain itu, BRIN menggandeng mitra industri dan startup binaan untuk memastikan teknologi yang di kembangkan dapat langsung di terapkan di lapangan. Keterlibatan PT Sedana Panen Sejahtera dan PT Noang Prima Utama memperkuat jembatan antara dunia riset dan industri. Melalui kemitraan ini, proses alih teknologi berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

Pelatihan alih teknologi mi sorgum bebas gluten oleh BRIN

Foto: Ilustrasi Sorgum.

Sorgum sebagai Pilar Pangan Alternatif Nasional

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses, Hens Saputra, menegaskan bahwa Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada komoditas pangan utama seperti beras dan jagung. Ia menilai sorgum sebagai salah satu tanaman yang memiliki potensi besar untuk mendukung kedaulatan pangan nasional.

Sorgum mampu tumbuh di berbagai kondisi lingkungan dan relatif tahan terhadap cuaca ekstrem. Selain itu, tanaman ini mengandung serat tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan. Dengan karakter tersebut, sorgum menawarkan solusi pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung pola konsumsi sehat.

Menjawab Ketergantungan Terhadap Terigu Impor

Tingginya konsumsi terigu di Indonesia mendorong kebutuhan akan bahan baku alternatif yang berasal dari dalam negeri. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor gandum, sementara tanaman tersebut tidak dapat tumbuh optimal di iklim tropis. Pada saat yang sama, masyarakat terus meningkatkan konsumsi produk berbasis mi dan roti.

Melihat kondisi tersebut, BRIN mengembangkan mi berbasis sorgum sebagai pengganti terigu. Produk ini tidak hanya bebas gluten, tetapi juga kaya serat dan memiliki nilai gizi yang lebih baik. Dengan inovasi ini, BRIN berupaya menggeser pola konsumsi masyarakat menuju pangan lokal yang lebih berkelanjutan.

Hilirisasi Teknologi dan Penguatan Ekosistem Industri

BRIN secara konsisten mendorong hilirisasi teknologi hasil riset agar memberikan dampak ekonomi nyata. Kerja sama dengan PT Sedana Panen Sejahtera telah berlangsung sejak 2023 dan terus berkembang hingga pengembangan formulasi produk seperti spageti sorgum. Sementara itu, PT Noang Prima Utama telah mengimplementasikan lisensi proses produksi mi sorgum sejak 2021.

Melalui sinergi ini, BRIN menargetkan terbentuknya ekosistem industri sorgum yang terintegrasi. Tidak hanya sektor pangan yang mendapatkan manfaat, tetapi juga sektor lain seperti pakan ternak, energi terbarukan berbasis biomassa, hingga bahan baku etanol.

Perspektif Industri terhadap Inovasi Mi Sorgum

Dari sudut pandang industri, PT Sedana Panen Sejahtera merasakan langsung manfaat dukungan teknologi dari BRIN. Penerapan teknologi ekstrusi memungkinkan perusahaan menghasilkan mi sorgum dengan tekstur dan cita rasa yang mendekati produk berbasis gandum.

Perusahaan telah memasarkan produk spageti sorgum dan menerima respons positif dari konsumen. Selain produk mi, perusahaan juga mengembangkan berbagai turunan sorgum seperti gula, kecap, dan tepung. Bahkan, perusahaan memperluas pemanfaatan sorgum ke sektor peternakan dan menjajaki kerja sama dengan industri energi serta kosmetik.

Dampak Strategis bagi Ketahanan Pangan Nasional

Pengembangan mi sorgum bebas gluten mencerminkan perubahan strategi ketahanan pangan nasional yang lebih progresif. BRIN tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada diversifikasi, keberlanjutan, dan nilai tambah ekonomi.

Melalui pendekatan riset terapan dan kolaborasi industri, pengembangan sorgum berpotensi membuka peluang usaha baru, mendorong pertumbuhan industri kecil dan menengah, serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan langkah ini, BRIN memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung kemandirian pangan Indonesia di masa depan.