Kasus pembunuhan – politikus PKS di Kota Cilegon akhirnya menemui titik terang. Polisi berhasil mengungkap pelaku yang selama ini meresahkan masyarakat. Keberhasilan pengungkapan kasus ini sekaligus menjawab berbagai pertanyaan publik terkait motif, kronologi, serta celah keamanan yang menyelimuti peristiwa tragis tersebut. Oleh karena itu, aparat kepolisian langsung menyusun rangkaian penyelidikan secara intensif demi memastikan keadilan bagi korban.

Foto: Polisi menangkap pria terduga pembunuh anak politkus PKS, Maman Suherman. (dok Istimewa)
Pelaku Mengakui Perbuatan Saat Polisi Melakukan Pemeriksaan
Pelaku berinisial HA berusia 31 tahun mengakui perbuatannya saat polisi melakukan pemeriksaan lapangan. Polisi membawa pelaku berkeliling sambil menggali keterangan secara mendalam. Dalam proses tersebut, HA secara terbuka menyatakan telah menghabisi nyawa seorang anak berusia sembilan tahun di kediaman Maman Suherman. Selanjutnya, pengakuan itu memperkuat dugaan polisi terkait keterkaitan pelaku dengan peristiwa pembunuhan yang sempat menyita perhatian nasional.
Selain itu, pelaku juga mengungkap riwayat kejahatan lain yang pernah ia lakukan. Selama masa pelarian, HA mengaku melakukan pencurian sebanyak tiga kali di lokasi berbeda. Salah satu lokasi pencurian tersebut termasuk rumah mewah milik politikus PKS yang menjadi tempat terjadinya pembunuhan. Dengan demikian, polisi memperoleh gambaran jelas mengenai pola kejahatan yang pelaku jalani.
Modus Kejahatan Mengarah pada Aksi Perampokan
Berdasarkan hasil penggeledahan, polisi menemukan sejumlah alat yang mendukung dugaan aksi perampokan. Pelaku membawa kunci pas yang ia modifikasi menyerupai obeng. Selain itu, polisi juga menemukan pisau serta benda menyerupai senjata api mainan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaku merencanakan aksi pencurian secara sadar dan sistematis.
Di sisi lain, polisi menilai pelaku tidak memiliki niat awal untuk melakukan pembunuhan. Namun, situasi di lapangan memicu tindakan brutal yang berujung pada hilangnya nyawa korban. Oleh karena itu, aparat kepolisian menilai faktor kesempatan dan lemahnya sistem keamanan rumah turut memperbesar risiko kejahatan.
Kronologi Penemuan Korban di Kediaman Pribadi
Peristiwa pembunuhan terjadi pada 16 Desember di sebuah rumah mewah yang terletak di kawasan perumahan BBS 3 Cilegon. Korban seorang anak berusia sembilan tahun mengalami luka serius sebanyak 19 titik di tubuhnya. Polisi menyatakan bahwa kekerasan berlangsung secara ekstrem dan tidak manusiawi. Dengan kondisi tersebut, aparat langsung mengarahkan penyelidikan pada dugaan pembunuhan disertai pencurian.
Namun demikian, proses pengungkapan kasus menghadapi sejumlah hambatan. Sistem CCTV di rumah tersebut tidak berfungsi sejak tahun 2023. Selain itu, rumah itu juga tidak memiliki petugas keamanan. Akibatnya, polisi tidak memperoleh rekaman visual yang dapat mempercepat identifikasi pelaku. Meski begitu, aparat tetap melanjutkan penyelidikan melalui pendekatan lain yang lebih konvensional.
Laporan Warga Menjadi Kunci Penangkapan Pelaku
Pada akhirnya, peran masyarakat menjadi faktor penentu dalam pengungkapan kasus ini. Warga sekitar melaporkan adanya orang asing yang memasuki rumah seorang mantan anggota DPRD Cilegon bernama Roisudin Sayuri. Seorang asisten rumah tangga memergoki pelaku saat beraksi, lalu berteriak meminta bantuan. Warga sekitar segera merespons dengan menghubungi pihak kepolisian.
Setelah menerima laporan tersebut, polisi bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Aparat berhasil mengamankan pelaku saat masih berada di sekitar rumah. Selanjutnya, polisi melakukan pemeriksaan lanjutan yang mengarah pada keterlibatan pelaku dalam pembunuhan anak politikus PKS. Dengan demikian, laporan warga terbukti menjadi elemen krusial dalam penegakan hukum.
Evaluasi Keamanan dan Imbauan Kepolisian
Kasus ini membuka mata banyak pihak mengenai pentingnya sistem keamanan rumah. CCTV yang tidak berfungsi serta ketiadaan petugas keamanan menciptakan celah besar bagi pelaku kejahatan. Oleh sebab itu, polisi mengimbau masyarakat untuk memastikan seluruh perangkat keamanan berfungsi secara optimal. Selain itu, warga juga perlu membangun komunikasi aktif dengan lingkungan sekitar.
Sebagai penutup, pengungkapan kasus ini menunjukkan bahwa kerja sama antara aparat dan masyarakat mampu menekan kejahatan serius. Dengan langkah preventif yang tepat, masyarakat dapat mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.