Pengguna IPhone Beralih Ke Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8 dalam proporsi yang semakin besar di Korea Selatan. Tren tersebut menunjukkan bahwa ponsel layar lipat mulai menarik perhatian konsumen yang sebelumnya menggunakan perangkat buatan Apple.
Media Korea Selatan Newsis melaporkan adanya peningkatan proporsi mantan pengguna iPhone pada kelompok pembeli ponsel lipat terbaru Samsung. Angkanya mendekati dua kali lipat jika dibandingkan dengan proporsi ketika Galaxy Z Fold 7 dan Galaxy Z Flip 7 memasuki pasar setahun sebelumnya.
Meski demikian, laporan tersebut tidak menyebut jumlah konsumen secara keseluruhan. Karena itu, peningkatan hampir dua kali lipat merujuk pada proporsi pengguna iPhone dalam kelompok konsumen yang berpindah perangkat. Angka itu tidak secara otomatis menunjukkan bahwa jumlah absolut pengguna yang melakukan perpindahan benar-benar naik dua kali lipat.
Data perpindahan perangkat dari industri telekomunikasi dan operator Korea Selatan menjadi dasar perkiraan tersebut. Menariknya, kelompok usia muda memberikan kontribusi cukup besar terhadap tren perpindahan ini.
Konsumen Muda Mulai Melirik Ponsel Lipat Samsung
Samsung menghadapi tantangan besar dalam menarik pengguna muda yang sudah terbiasa dengan ekosistem Apple. Namun, Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8 mulai membuka peluang baru bagi perusahaan asal Korea Selatan tersebut.
Menurut laporan yang sama, pengguna berusia remaja hingga kelompok usia 20-an dan 30-an mendominasi perpindahan dari iPhone menuju perangkat lipat Galaxy. Kondisi ini memberikan sinyal penting bagi Samsung karena konsumen muda selama ini menjadi salah satu basis pengguna kuat Apple.
Selain itu, iPhone memiliki posisi yang sangat kuat di kalangan anak muda pada sejumlah pasar, termasuk Amerika Serikat. Oleh sebab itu, perkembangan kategori foldable berpotensi membantu Samsung menawarkan pengalaman berbeda yang tidak tersedia pada iPhone konvensional.
Samsung tidak hanya menawarkan spesifikasi tinggi. Perusahaan tersebut juga mengandalkan bentuk perangkat yang fleksibel sebagai daya tarik. Pengguna dapat memakai perangkat layaknya smartphone biasa saat menutupnya, kemudian memperoleh area layar jauh lebih luas ketika membukanya.
Galaxy Z Fold 8 Menjadi Model yang Paling Banyak Menarik Perhatian
Di antara perangkat lipat generasi terbaru Samsung, Galaxy Z Fold 8 mencatat permintaan yang menonjol. Bahkan, tingginya minat konsumen sempat memberikan tekanan terhadap kapasitas produksi karena permintaan melampaui perkiraan awal perusahaan.
Performa pemesanan awal perangkat tersebut juga memperlihatkan hasil kuat. Secara global, Galaxy Z Fold 8 melampaui catatan pre-order sejumlah generasi Fold sebelumnya. Sementara itu, permintaan di Korea Selatan juga menunjukkan antusiasme tinggi pada periode awal peluncurannya.
Salah satu daya tarik utama generasi terbaru ini berasal dari perubahan desain. Samsung membuat proporsi bodinya lebih lebar sehingga perangkat memiliki tampilan menyerupai paspor. Pendekatan tersebut sekaligus membuat layar bagian depan terasa lebih menyerupai layar smartphone konvensional.
Ketika pengguna membuka perangkat, layar utama menawarkan ruang lebih luas untuk berbagai aktivitas. Misalnya, pengguna dapat menonton video, membaca dokumen, membuka beberapa aplikasi, hingga menyelesaikan pekerjaan dengan lebih nyaman.
Tak hanya mengubah bentuk, Samsung juga memangkas bobot perangkat secara signifikan. Galaxy Z Fold 8 memiliki berat sekitar 201 gram. Dengan bobot tersebut, perangkat bahkan lebih ringan daripada beberapa ponsel flagship dengan desain non-lipat.
Perubahan pada dimensi dan berat itu menjadi faktor penting. Sebab, salah satu keluhan terhadap generasi awal smartphone foldable berkaitan dengan bodi tebal dan berat. Samsung terus memperbaiki aspek tersebut agar pengguna mendapatkan pengalaman yang semakin mendekati smartphone biasa.

Ilustrasi Samsung Galaxy Z Fold 8 (kiri) dan iPhone 17 Pro Max (kanan).
Proses Memindahkan Data dari iPhone Semakin Praktis
Desain menarik saja belum tentu cukup untuk membuat pengguna meninggalkan ekosistem yang sudah mereka gunakan selama bertahun-tahun. Karena itu, Samsung bersama Google turut memberikan perhatian pada proses migrasi data dari iPhone menuju perangkat Android.
Melalui pengembangan Smart Switch, pengguna dapat memindahkan lebih banyak jenis informasi tanpa harus selalu mengandalkan kabel. Sistem tersebut mendukung perpindahan sejumlah data penting, termasuk pesan, riwayat panggilan, eSIM, kata sandi, dan passkey.
Kemudahan ini dapat mengurangi hambatan ketika pengguna iPhone ingin mencoba Galaxy. Terlebih, seseorang yang sudah lama menggunakan satu ekosistem biasanya menyimpan banyak informasi penting pada perangkatnya.
Dengan demikian, keputusan berpindah ponsel tidak hanya berkaitan dengan harga atau spesifikasi. Pengguna juga mempertimbangkan kemudahan membawa akun dan data pribadi menuju perangkat baru. Semakin sederhana proses migrasi, semakin mudah pula konsumen mempertimbangkan perpindahan ekosistem.
iPhone Duo Membuat Persaingan Ponsel Lipat Semakin Ketat
Samsung kini menghadapi situasi baru setelah Apple memasuki pasar smartphone foldable melalui iPhone Duo. Perangkat tersebut menjadi iPhone lipat pertama sekaligus memberikan pilihan baru bagi pengguna Apple yang tertarik dengan desain layar fleksibel.
Sebelumnya, konsumen iPhone yang menginginkan smartphone lipat harus mempertimbangkan Android. Kini, iPhone Duo memungkinkan mereka tetap berada dalam ekosistem Apple sembari memperoleh bentuk perangkat foldable.
Kehadiran produk tersebut tentu dapat memengaruhi tren pengguna iPhone beralih ke Galaxy Z Fold 8. Namun, Samsung memiliki modal berupa pengalaman panjang dalam mengembangkan kategori ini.
Samsung memulai perjalanan smartphone lipat melalui Galaxy Fold pada 2019. Sejak saat itu, perusahaan terus menyempurnakan engsel, ketahanan layar, desain bodi, bobot, ketebalan, serta optimalisasi perangkat lunak. Galaxy Z Fold 8 membawa berbagai hasil pengembangan dari perjalanan beberapa generasi tersebut.
Harga Menjadi Bagian dari Persaingan Galaxy Z Fold 8 dan iPhone Duo
Persaingan Samsung dan Apple juga berlangsung melalui harga, terutama di pasar Amerika Serikat. Galaxy Z Fold 8 dengan penyimpanan 256 GB memiliki harga awal 1.899 dollar AS atau sekitar Rp33 jutaan.
Sebagai perbandingan, Apple menawarkan iPhone Duo berkapasitas 256 GB dengan harga mulai 1.999 dollar AS atau sekitar Rp35 jutaan. Dengan demikian, kedua perangkat memiliki selisih sekitar 100 dollar AS atau kurang lebih Rp1,7 juta.
Selisih tersebut memberikan Samsung ruang untuk menawarkan smartphone lipat kelas premium dengan harga awal sedikit lebih rendah. Namun, konsumen tentu tidak hanya mempertimbangkan banderol. Ekosistem aplikasi, desain, kamera, pengalaman perangkat lunak, daya tahan, hingga kemudahan memindahkan data juga dapat menentukan pilihan.
Pada akhirnya, meningkatnya proporsi pengguna iPhone yang mencoba Galaxy Z Fold 8 dan Z Flip 8 menunjukkan perubahan menarik dalam persaingan smartphone premium. Samsung kini memiliki peluang lebih besar untuk menarik pengguna melalui kategori foldable, sedangkan Apple sudah memberikan jawaban melalui iPhone Duo.
Persaingan keduanya pun memasuki fase baru. Samsung membawa pengalaman pengembangan ponsel lipat selama beberapa generasi, sementara Apple menawarkan alternatif bagi pengguna yang ingin mencoba desain foldable tanpa meninggalkan ekosistem iPhone.