Pola Asuh Orangtua – banyak orang menilai hubungan kakak dan adik akan berkembang secara alami. Oleh karena itu, pertengkaran, kecemburuan, dan kedekatan emosional sering di anggap wajar. Namun, pandangan ini kerap menutupi peran besar orangtua dalam membentuk di namika antarsaudara sejak dini.

Menurut psikolog Wenny Aidia, hubungan kakak-adik termasuk hubungan horizontal dalam keluarga. Sementara itu, hubungan vertikal mengacu pada relasi orangtua dan anak. Dengan demikian, kualitas hubungan horizontal sangat bergantung pada cara orangtua bersikap kepada anak-anaknya.

Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam kelas daring yang di gelar oleh KALM Counseling. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa relasi kakak-adik tidak muncul secara kebetulan. Sebaliknya, orangtua membentuk relasi tersebut melalui respons dan nilai yang mereka tanamkan setiap hari.

Pola asuh orangtua memengaruhi hubungan kakak adik

Ilustrasi kakak adik.(Google Gemini AI)

Pola Asuh Menjadi Fondasi Relasi Kakak-Adik

Anak-anak membangun hubungan melalui aktivitas harian seperti bermain dan berbagi ruang. Namun demikian, orangtua memberi makna pada setiap interaksi tersebut. Oleh sebab itu, cara orangtua merespons konflik kecil memiliki dampak jangka panjang.

Selain itu, perlakuan ayah dan ibu membentuk cara kakak dan adik memandang satu sama lain. Anak belajar memahami peran dan batasan melalui sikap orangtua. Dengan kata lain, pola asuh menjadi fondasi utama dalam membangun relasi antarsaudara.

Penetapan Peran Kakak dan Adik dalam Keluarga

Dalam banyak keluarga, orangtua menetapkan peran kakak dan adik secara tidak tertulis. Oleh karena itu, kakak sering diharapkan lebih dewasa dan lebih sabar. Pada saat yang sama, orangtua kerap meminta kakak mengalah saat konflik muncul.

Sebaliknya, adik sering mendapat posisi sebagai pihak yang perlu dilindungi. Akibatnya, anak menangkap pesan berbeda tentang perannya. Ketika orangtua meminta kakak mengalah saat berebut mainan, kakak bisa merasa kebutuhannya kurang penting. Sementara itu, adik bisa merasa orangtua akan selalu membelanya.

Menurut Wenny, pola ini dapat memicu reaksi emosional tertentu. Sebagian kakak menerima peran tersebut sebagai kewajiban. Namun demikian, sebagian lainnya menyimpan rasa tidak adil yang kemudian berkembang menjadi penolakan atau pemberontakan.

Dampak Emosional Terhadap Hubungan Jangka Panjang

Pesan yang anak terima sejak kecil sering terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, hubungan kakak-adik yang tumbuh dalam ketimpangan peran berisiko menghadirkan jarak emosional. Rasa iri dan konflik berkepanjangan dapat muncul seiring waktu.

Namun, Wenny menegaskan bahwa pertengkaran saat bermain sebenarnya hal yang wajar. Yang terpenting adalah nilai yang orangtua tanamkan saat menyikapi konflik tersebut. Dengan demikian, anak belajar tentang keadilan, empati, dan penghargaan terhadap perasaan orang lain.

Orangtua Berperan Aktif Membangun Kedekatan

Hubungan kakak-adik tidak hanya dipengaruhi oleh selisih usia. Lebih jauh, orangtua memegang peran aktif dalam membangun kedekatan antaranak. Cara orangtua menempatkan posisi kakak, adik, maupun anak tengah membentuk fondasi relasi keluarga.

Jika orangtua memberi perhatian yang seimbang, anak merasa dihargai. Dengan begitu, hubungan kakak-adik cenderung berkembang lebih hangat. Sebaliknya, perlakuan timpang sering memicu kecemburuan dan konflik emosional yang berkepanjangan.

Pola Asuh yang Terus Berulang Antar Generasi

Banyak orangtua tanpa sadar mengulang pola asuh yang mereka alami di masa kecil. Oleh karena itu, anggapan bahwa anak yang lebih besar harus selalu mengalah sering diwariskan antar generasi. Padahal, baik kakak maupun adik memiliki kebutuhan emosional yang sama penting.

Jika orangtua tidak menyadari pola ini, hubungan kakak-adik berisiko terus berkembang dalam ketimpangan. Dengan demikian, kesadaran orangtua menjadi langkah awal untuk memutus siklus tersebut.

Membangun Hubungan Kakak-Adik yang Lebih Sehat

Pada akhirnya, kesadaran orangtua menjadi kunci utama dalam membangun hubungan kakak-adik yang sehat. Orangtua dapat mulai dengan mendengarkan perasaan setiap anak tanpa membandingkan. Selain itu, orangtua dapat memberi ruang dialog agar anak belajar mengekspresikan emosi secara aman.

Dengan pendekatan yang lebih adil dan reflektif, keluarga dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Dengan demikian, hubungan kakak-adik berpeluang tumbuh menjadi relasi yang saling mendukung, baik di masa kanak-kanak maupun saat dewasa.