Angin puting beliung – melanda kawasan Sidakarya di Denpasar, Bali, pada Rabu, 21 Januari 2026. Angin kencang yang datang secara tiba-tiba tersebut menyapu permukiman warga dan menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah serta sejumlah bangunan peribadatan. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan hujan yang turun cukup deras sehingga memperparah dampak kerusakan di lokasi terdampak.

Hembusan angin yang kuat merusak atap rumah, menjatuhkan dinding bangunan ringan, serta menumbangkan pepohonan di sekitar kawasan permukiman. Warga merasakan kepanikan sesaat karena angin berputar dengan kecepatan tinggi dan berlangsung dalam waktu singkat. Meski demikian, warga tetap berusaha menyelamatkan diri dan mengamankan anggota keluarga masing-masing.

Warga membersihkan puing bangunan setelah puting beliung menerjang Denpasar

Warga membersihkan puing-puing bangunan peribadatan yang rusak akibat angin puting beliung di kawasan Sidakarya, Denpasar, Bali, Rabu (21/1/2026). Hingga kini, warga diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, mengingat intensitas hujan dan angin kencang masih berpeluang terjadi di wilayah Bali dalam beberapa waktu ke depan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Warga Bergerak Cepat Lakukan Pembersihan Lingkungan

Setelah angin mereda, warga Sidakarya langsung bergerak membersihkan lingkungan sekitar. Mereka secara bergotong royong mengumpulkan puing-puing bangunan, mengangkat material atap yang roboh, serta menyingkirkan ranting dan pohon tumbang yang menghalangi jalan. Aktivitas ini berlangsung sejak pagi hari dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Warga juga membersihkan area bangunan peribadatan yang terdampak agar tempat tersebut kembali aman dan dapat di gunakan. Dengan peralatan sederhana, masyarakat berusaha memulihkan kondisi lingkungan secara bertahap. Gotong royong ini membantu mempercepat proses pemulihan dan mengurangi risiko bahaya lanjutan akibat material bangunan yang berserakan.

Kerusakan Rumah dan Fasilitas Umum Ganggu Aktivitas Warga

Angin puting beliung menyebabkan tingkat kerusakan yang berbeda pada setiap bangunan. Sejumlah rumah mengalami kerusakan ringan seperti genteng yang terlepas, sementara beberapa rumah lain kehilangan sebagian besar atapnya. Bangunan peribadatan juga mengalami kerusakan pada bagian atap dan struktur ringan, sehingga memerlukan perbaikan sebelum dapat kembali di gunakan secara normal.

Kerusakan tersebut mengganggu aktivitas harian warga, terutama kegiatan ibadah dan aktivitas sosial di lingkungan setempat. Oleh karena itu, warga bersama tokoh masyarakat mulai mendata kerusakan untuk menentukan kebutuhan perbaikan. Pendataan ini menjadi langkah awal dalam proses pemulihan agar bantuan dapat tepat sasaran.

Cuaca Ekstrem Masih Mengancam Wilayah Bali

Meski angin puting beliung telah berlalu, potensi cuaca ekstrem masih mengancam wilayah Bali. Intensitas hujan yang tinggi disertai angin kencang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, termasuk angin kencang susulan dan banjir di daerah rawan.

Oleh karena itu, warga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca. Masyarakat dapat mengamankan bagian rumah yang rawan rusak, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan saluran air berfungsi dengan baik. Langkah-langkah ini membantu mengurangi dampak jika cuaca ekstrem kembali terjadi.

Peran Kesiapsiagaan dalam Mengurangi Risiko Bencana

Peristiwa angin puting beliung di Sidakarya menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Dengan pengetahuan yang memadai, warga dapat mengambil tindakan cepat saat kondisi darurat muncul. Kesiapsiagaan ini mencakup pemahaman terhadap tanda-tanda cuaca ekstrem serta langkah penyelamatan diri yang tepat.

Selain itu, masyarakat perlu memperkuat kerja sama dengan lingkungan sekitar. Koordinasi antarwarga membantu proses evakuasi dan pemulihan berjalan lebih efektif. Edukasi kebencanaan juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih siap menghadapi situasi serupa di masa mendatang.

Gotong Royong Percepat Proses Pemulihan

Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Sidakarya menjadi faktor utama dalam mempercepat pemulihan pascabencana. Dengan saling membantu, warga dapat membersihkan lingkungan dan memperbaiki kerusakan ringan secara mandiri. Sikap ini mencerminkan ketangguhan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana.

Ke depan, peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan diharapkan mampu meminimalkan dampak cuaca ekstrem. Melalui kerja sama yang solid, mitigasi yang tepat, serta kesadaran kolektif, masyarakat Sidakarya dan wilayah lain di Bali dapat menghadapi ancaman bencana alam dengan lebih siap dan tangguh.