Kebiasaan Menyimpan Telur – sering kali memicu perdebatan di dapur rumah tangga. Sebagian orang memilih menyimpan telur di dalam kulkas, sementara yang lain meletakkannya di suhu ruang. Meski terlihat sederhana, cara penyimpanan telur memiliki dampak langsung terhadap rasa, keamanan pangan, dan hasil masakan.
Masyarakat menggunakan telur hampir setiap hari sebagai bahan makanan serbaguna. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyimpanan telur menjadi penting agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga. Perbedaan sudut pandang antara praktisi kuliner dan otoritas keamanan pangan kerap memperkaya diskusi mengenai topik ini.
Pandangan Kuliner: Telur Suhu Ruang Lebih Ideal untuk Memasak
Banyak praktisi kuliner menilai telur suhu ruang lebih mudah diolah. Chef asal Inggris, James Martin, menyarankan agar orang tidak selalu menyimpan telur di kulkas. Menurutnya, cangkang telur memiliki pori-pori yang dapat menyerap aroma dari makanan lain di dalam lemari pendingin. Akibatnya, rasa telur dapat berubah ketika dimasak.
Selain itu, telur dingin sering menyulitkan proses memasak. Saat seseorang langsung menggunakan telur dari kulkas, suhu rendah telur dapat mengganggu proses pencampuran bahan, terutama pada pembuatan kue. Telur suhu ruang biasanya menyatu lebih cepat dengan bahan lain dan menghasilkan adonan yang lebih stabil.

Ilustrasi. Sebaiknya, menyimpan telur agar aman itu di kulkas atau justru di luar?
Pengaruh Telur Dingin terhadap Tekstur Masakan
Perusahaan baking asal Amerika Serikat, King Arthur Baking, juga menyoroti dampak telur dingin terhadap hasil masakan. Telur bersuhu rendah membutuhkan waktu lebih lama untuk matang dan dapat menghasilkan tekstur kue yang lebih padat. Dalam beberapa kasus, perbedaan suhu ini membuat adonan tidak mengembang secara optimal.
Selain itu, telur dingin berisiko retak ketika seseorang langsung merebusnya dalam air panas. Perubahan suhu yang ekstrem menciptakan tekanan pada cangkang telur, sehingga meningkatkan kemungkinan retak sebelum telur matang sempurna.
Perspektif Keamanan Pangan: Kulkas Tetap Jadi Pilihan Aman
Di sisi lain, otoritas keamanan pangan Inggris, Food Standards Agency (FSA), mendorong masyarakat untuk menyimpan telur di tempat sejuk dan kering. Dalam praktik sehari-hari, kulkas menjadi pilihan paling aman untuk menjaga kualitas telur dalam jangka waktu lebih lama.
FSA menekankan pentingnya menjaga suhu penyimpanan yang stabil. Ketika seseorang sering memindahkan telur dari kulkas ke suhu ruang, perubahan suhu dapat menimbulkan embun di permukaan cangkang. Kondisi lembap ini dapat memudahkan bakteri, seperti Salmonella, masuk ke dalam telur.
Penanganan Telur Utuh dan Telur Cair
FSA juga memberikan perhatian khusus pada penanganan telur yang sudah dipecahkan. Telur cair sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri jika dibiarkan di suhu ruang. Oleh karena itu, seseorang perlu menyimpan telur cair di dalam kulkas segera setelah memecahnya.
Selain itu, telur cair tidak boleh disimpan terlalu lama. Jika seseorang menyimpan telur cair lebih dari 24 jam, sebaiknya telur tersebut dibuang demi mencegah risiko kesehatan. Langkah ini penting untuk menjaga keamanan pangan di rumah tangga.
Cara Aman Menyimpan Telur di Rumah
Pakar gaya hidup dan kuliner Martha Stewart merangkum beberapa langkah praktis yang dapat di terapkan di rumah. Pertama, seseorang perlu menangani telur dengan hati-hati karena cangkangnya mudah retak. Retakan kecil dapat menjadi jalan masuk bakteri.
Kedua, saat membeli telur, konsumen perlu memilih telur dengan cangkang utuh. Telur yang retak lebih mudah terkontaminasi oleh partikel dari udara. Ketiga, seseorang tidak perlu mencuci telur sebelum menyimpannya. Air justru dapat mendorong bakteri masuk melalui pori-pori cangkang. Jika telur tampak kotor, cukup bersihkan dengan kain kering atau tisu.
Keempat, mencuci tangan sebelum memegang telur membantu mencegah perpindahan kuman ke permukaan telur. Terakhir, seseorang perlu menjauhkan telur dari makanan beraroma kuat karena telur dapat menyerap bau jika di simpan terlalu dekat dalam waktu lama.
Menyesuaikan Penyimpanan dengan Kebutuhan
Pada akhirnya, cara menyimpan telur sangat bergantung pada kebiasaan dan kebutuhan masing-masing orang. Menyimpan telur di kulkas memberikan keuntungan dari sisi keamanan dan daya simpan. Pilihan ini cocok bagi orang yang jarang menggunakan telur atau menyimpannya dalam jumlah banyak.
Sebaliknya, orang yang sering memasak dapat menyimpan telur di suhu ruang dalam waktu singkat. Telur bersuhu ruang lebih mudah di kocok dan membantu menghasilkan tekstur masakan yang lebih konsisten. Namun, seseorang tetap perlu memastikan lingkungan penyimpanan bersih dan tidak terlalu panas.
Cara Mengenali Telur yang Masih Layak Konsumsi
Banyak orang mengenal metode merendam telur dalam air untuk mengecek kesegarannya. Telur yang tenggelam biasanya masih segar, sedangkan telur yang mengapung menandakan usia simpan yang lebih lama. Meski metode ini cukup populer, FSA tetap menyarankan agar masyarakat memperhatikan tanggal kedaluwarsa.
Seseorang masih dapat mengonsumsi telur beberapa hari setelah tanggal tersebut jika menyimpannya dengan benar dan memasaknya hingga matang sempurna. Proses memasak yang baik menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko bakteri.
Perdebatan mengenai penyimpanan telur menunjukkan pentingnya memahami tujuan penggunaan telur itu sendiri. Pendekatan kuliner menekankan kualitas rasa dan tekstur, sementara pendekatan keamanan pangan berfokus pada perlindungan kesehatan. Dengan menyesuaikan cara penyimpanan terhadap kebutuhan dan kebiasaan memasak, masyarakat dapat menjaga kualitas telur sekaligus meminimalkan risiko kesehatan.