MediaKini24.com – Aplikasi perpesanan Telegram sempat tidak dapat di temukan di App Store milik Apple di sejumlah negara pada awal Agustus 2026. Peristiwa tersebut memicu perhatian luas karena pengguna iPhone dan iPad tidak bisa mengunduh aplikasi melalui pencarian di toko aplikasi. Meski demikian, pengguna yang telah memasang Telegram sebelumnya tetap dapat menggunakan layanan seperti biasa.
Kondisi ini memunculkan beragam spekulasi di kalangan pengguna internet. Sebagian pihak menduga penghapusan berkaitan dengan faktor politik. Sementara lainnya mengaitkannya dengan dugaan penggunaan antarmuka pemrograman aplikasi (API) privat pada sistem operasi iOS. Namun, Apple akhirnya memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik hilangnya Telegram dari App Store.
Apple Menjelaskan Alasan Penghapusan Telegram
Apple menyatakan bahwa keputusan untuk menghapus Telegram dari App Store dilakukan setelah proses peninjauan internal menemukan adanya konten yang melanggar pedoman perusahaan. Konten tersebut berkaitan dengan Child Sexual Abuse Material (CSAM) atau materi eksploitasi seksual terhadap anak, yang merupakan salah satu kategori pelanggaran paling serius dalam kebijakan App Store.
Menurut Apple, penghapusan dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap pengguna sekaligus bentuk penerapan standar keamanan platform. Setelah Telegram mengambil tindakan cepat dengan menghapus konten yang di maksud dan menonaktifkan akun yang bertanggung jawab, aplikasi tersebut kembali di publikasikan di App Store.
Langkah tersebut membuat Telegram kembali tersedia untuk di unduh oleh pengguna perangkat Apple. Sementara itu, selama proses berlangsung, aplikasi Telegram tetap dapat di temukan di Mac App Store maupun Google Play Store untuk perangkat Android sehingga layanan tidak sepenuhnya menghilang dari seluruh ekosistem digital.
Telegram Mengklaim Telah Menindak Konten Bermasalah
Menanggapi pernyataan Apple, Telegram membenarkan bahwa perusahaan telah memblokir akun yang di laporkan mengunggah konten terlarang. Selain itu, Telegram mengungkapkan telah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap grup dan kanal yang berkaitan dengan CSAM.
Sepanjang tahun 2026, perusahaan mengklaim telah menghapus lebih dari 337.900 grup dan kanal yang teridentifikasi menyebarkan materi eksploitasi seksual anak. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Telegram dalam memperkuat sistem moderasi serta menjaga keamanan platform bagi seluruh penggunanya.
Telegram menegaskan bahwa perusahaan terus meningkatkan teknologi pendeteksian dan penanganan konten ilegal agar penyalahgunaan layanan dapat di minimalkan. Langkah tersebut juga dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan berbagai platform distribusi aplikasi, termasuk App Store milik Apple.

Ilustrasi Telegram
Pavel Durov Ungkap Dugaan Modus Pemerasan Digital
CEO Telegram, Pavel Durov, kemudian memberikan penjelasan lebih rinci melalui kanal resminya di Telegram. Ia menilai insiden tersebut tidak semata-mata di sebabkan oleh kelalaian sistem moderasi. Melainkan di duga merupakan bagian dari aksi yang di kenal sebagai takedown extortion atau pemerasan melalui penghapusan platform.
Menurut Durov, pelaku memanfaatkan celah teknis dengan mengedit pesan lama yang berada di dalam grup publik. Setelah itu, mereka menyisipkan konten ilegal yang telah di modifikasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Karena konten di tempatkan pada pesan lama, unggahan tersebut tidak muncul sebagai kiriman baru sehingga anggota grup maupun moderator tidak langsung mengetahuinya.
Setelah konten tersisip, pelaku di duga segera melaporkan grup atau aplikasi kepada Apple dengan tujuan agar Telegram di anggap melanggar aturan App Store. Durov menyebut pola tersebut sering di gunakan sebagai alat tekanan kepada pemilik komunitas digital.
Ia menjelaskan bahwa pelaku biasanya meminta sejumlah uang kepada administrator grup. Apabila permintaan tersebut di tolak, mereka kemudian menyisipkan konten ilegal dan melaporkannya kepada platform distribusi aplikasi agar grup maupun aplikasi menjadi sasaran tindakan penegakan aturan.
Ancaman bagi Platform Berbasis Konten Pengguna
Durov menilai modus tersebut berpotensi mengancam berbagai layanan digital yang mengandalkan konten buatan pengguna (user-generated content). Media sosial, forum diskusi, hingga aplikasi pesan instan di nilai memiliki risiko serupa apabila tidak tersedia mekanisme verifikasi yang memadai sebelum tindakan penghapusan di lakukan.
Menurutnya, perusahaan penyedia toko aplikasi sebaiknya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pengembang sebelum menjatuhkan sanksi berupa penghapusan aplikasi. Dengan proses verifikasi yang lebih menyeluruh, dugaan penyalahgunaan sistem pelaporan dapat di minimalkan.
Di sisi lain, kasus ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara penyedia platform distribusi aplikasi dan pengembang dalam menangani laporan konten ilegal secara cepat sekaligus akurat. Pendekatan tersebut di nilai mampu menjaga keseimbangan antara keamanan pengguna dan keberlangsungan layanan digital.
Telegram Pernah Mengalami Kasus Serupa
Insiden pada Agustus 2026 bukan menjadi pengalaman pertama bagi Telegram terkait penghapusan dari App Store. Pada Februari 2018, Apple juga sempat menarik aplikasi tersebut secara global setelah menemukan konten yang di anggap melanggar kebijakan perusahaan.
Kala itu, Telegram segera menambahkan sistem perlindungan baru setelah menerima pemberitahuan dari Apple. Setelah proses perbaikan selesai dilakukan, aplikasi kembali tersedia bagi pengguna di seluruh dunia.
Selain itu, Telegram pernah menghadapi pemblokiran sementara di Brasil pada 2023 karena tidak memenuhi permintaan informasi mengenai grup yang di duga menyebarkan ajakan kekerasan di lingkungan sekolah.
Pada 2024, Apple juga menghapus Telegram dari App Store khusus wilayah China bersama beberapa aplikasi komunikasi lainnya sebagai tindak lanjut atas instruksi regulator internet setempat. Berbeda dengan kebijakan di China yang masih berlaku, penghapusan Telegram pada kasus terbaru hanya berlangsung sementara.
Setelah seluruh konten yang di permasalahkan di hapus serta akun terkait di blokir, Apple mengembalikan Telegram ke App Store. Dengan demikian, pengguna iPhone dan iPad kembali dapat mengunduh aplikasi tersebut seperti biasa.