Saung Seling Dayak Kenyah merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Dayak Kenyah yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan adat. Masyarakat subsuku Lepo’ Ke dan Lepo’ Maut di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, menjaga keberadaan penutup kepala tradisional ini sebagai bagian dari identitas mereka. Bagi masyarakat setempat, saung seling tidak hanya menjadi perlengkapan busana adat, tetapi juga menggambarkan kedudukan sosial seseorang.

Pengrajin membuat saung seling menggunakan bahan alami berupa rotan dan bambu. Mereka mengolah kedua bahan tersebut melalui proses anyaman manual yang membutuhkan keterampilan khusus. Setiap bagian memiliki pola tertentu yang menunjukkan karakter khas budaya Dayak Kenyah.

Masyarakat adat memberikan perhatian besar terhadap penggunaan saung seling. Mereka tidak memperlakukan benda tersebut sebagai kerajinan biasa yang bisa di miliki siapa saja. Dalam tradisi Dayak Kenyah, saung seling dengan motif tertentu memiliki hubungan erat dengan keluarga bangsawan atau paren.

Proses Panjang Pembuatan Saung Seling Tradisional

Perjalanan membuat saung seling membutuhkan ketelitian sejak tahap awal. Perajin harus memilih bahan yang sesuai sebelum mulai menyusun anyaman. Mereka kemudian membentuk rotan secara perlahan hingga menghasilkan kerangka penutup kepala yang kuat dan memiliki bentuk khas.

Di Desa Long Kemuat, beberapa perempuan Dayak Kenyah masih mempertahankan kemampuan membuat saung seling. Mereka mengerjakan kerajinan tersebut sambil mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai aksesori tradisional.

Kemampuan menganyam saung seling tidak muncul secara instan. Para perajin membutuhkan waktu panjang untuk memahami teknik pembuatan, pola hias, serta aturan adat yang melekat pada benda tersebut.

Salah satu perajin yang terus menjaga keterampilan ini adalah Limbang. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tidak bisa membeli saung seling tanpa memenuhi aturan tertentu. Calon pembeli harus menjelaskan asal keluarga mereka terlebih dahulu.

Menurut Limbang, aturan tersebut berlaku karena saung seling memiliki nilai kehormatan bagi pemiliknya. Ia tidak ingin penutup kepala adat itu kehilangan makna akibat penggunaan yang tidak sesuai dengan tradisi.

“Tidak sembarang juga jualnya. Kalau orang datang ke rumah mau beli, mereka harus jelaskan dulu dari keluarga mana,” ujar Limbang saat membuat saung seling pada Minggu (2/8/2026).

Limbang menjelaskan bahwa dirinya hanya memberikan saung seling kepada orang yang memiliki hubungan keluarga dengan kelompok yang berhak mengenakan perlengkapan adat tersebut.

“Kalau saya tahu orang tuanya berhak, baru saya kasih,” katanya.

Saung Seling Dayak Kenyah

Pembuatan saung seling oleh Limbang (kanan) dan rekannya.

Saung Seling dan Tantangan Pelestarian Budaya

Keberadaan saung seling Dayak Kenyah menghadapi tantangan karena jumlah perajin yang memahami teknik pembuatannya semakin sedikit. Tidak semua orang mampu menguasai keterampilan mengolah rotan menjadi penutup kepala dengan aturan adat yang tepat.

Limbang menyadari kondisi tersebut sejak lama. Karena itu, ia mulai mempelajari pembuatan saung seling sejak usia 18 tahun. Orang tuanya menjadi sosok yang pertama kali mengenalkan teknik pembuatan kerajinan tersebut kepadanya.

Ia memilih belajar karena melihat risiko hilangnya tradisi tersebut. Limbang khawatir tidak ada generasi penerus yang mampu melanjutkan keahlian membuat saung seling jika para perajin senior sudah tidak ada.

“Orang tua saya yang ajarkan buatnya. Takut punah, nanti kalau orang tua sudah tidak ada, siapa lagi yang buat? Makanya dari umur 18 tahun saya mulai belajar,” ungkap Limbang.

Kini, saung seling Dayak Kenyah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat Malinau. Kerajinan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan seni tangan masyarakat adat, tetapi juga membawa nilai sejarah dan penghormatan terhadap leluhur.

Melalui tangan para perajin seperti Limbang, tradisi pembuatan saung seling terus bertahan di tengah perubahan zaman. Mereka menjaga warisan tersebut agar generasi mendatang masih dapat mengenal simbol kehormatan yang telah di wariskan oleh nenek moyang Dayak Kenyah.

Saung seling membuktikan bahwa sebuah benda tradisional dapat memiliki makna jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Di balik setiap anyaman rotan dan bambu, terdapat cerita tentang identitas, status sosial, serta komitmen masyarakat dalam menjaga budaya mereka.