Petilasan Nyai Bagelen menjadi salah satu destinasi wisata religi sekaligus situs bersejarah yang terkenal di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Masyarakat Desa Bagelen masih menjaga kesakralan tempat tersebut melalui berbagai tradisi yang mereka warisi secara turun-temurun. Salah satu kebiasaan yang paling menarik perhatian ialah aturan menuntun sepeda maupun sepeda motor ketika melewati bagian depan petilasan.
Warga setempat meyakini kawasan Petilasan Nyai Bagelen telah memiliki jejak sejarah sejak sekitar abad ke-6 atau ke-7. Keluarga Cokrosudo kemudian memegang tanggung jawab pengelolaan kawasan tersebut secara turun-temurun.
Juru kunci Petilasan Nyai Bagelen, Sutejo Ganjar Riyanto, menjelaskan bahwa masyarakat mulai memberikan perhatian lebih intensif terhadap tempat tersebut pada masa pemerintahan Sultan Agung. Saat itu, Tumenggung Rekso Samudro mengawasi perawatan kawasan sekaligus menjalankan peran sebagai pemimpin pertama Bagelen.
Di dalam kompleks petilasan, pengunjung dapat menemukan sejumlah peninggalan berupa stupa. Keberadaan peninggalan tersebut memperkuat nilai sejarah kawasan dan membuat Petilasan Nyai Bagelen memiliki arti penting bagi masyarakat setempat.
Stupa dan Kepercayaan Masyarakat Bagelen
Sutejo menyebut terdapat sekitar sembilan hingga sepuluh stupa di area petilasan. Masyarakat Bagelen kerap mendatangi bagian tersebut untuk melakukan sungkeman dan mendoakan Nyai Bagelen.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Nyai Bagelen mengalami moksa atau menghilang di kawasan tersebut. Keyakinan itu kemudian membentuk hubungan spiritual yang kuat antara masyarakat Bagelen dengan petilasan hingga sekarang.
Cerita mengenai Nyai Bagelen juga terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, warga tidak hanya melihat kawasan ini sebagai lokasi ziarah. Mereka juga menganggapnya sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah dan identitas Desa Bagelen.
Popularitas Petilasan Nyai Bagelen bahkan menarik perhatian masyarakat dari luar Purworejo. Peziarah dari berbagai daerah datang untuk berdoa maupun mengenal sejarah lokal yang berkembang di kawasan tersebut.
Sutejo mengatakan sejumlah pejabat, politikus, dan calon kepala desa juga pernah berkunjung. Selain pengunjung dalam negeri, wisatawan dari Tibet, India, hingga Jepang turut mendatangi kawasan bersejarah tersebut.
Tradisi Menuntun Kendaraan di Depan Petilasan
Salah satu tradisi yang masih masyarakat pertahankan hingga sekarang berkaitan dengan kendaraan. Setiap orang yang melintasi bagian depan Petilasan Nyai Bagelen perlu turun lalu menuntun sepeda atau sepeda motornya.
Menurut Sutejo, masyarakat menjalankan kebiasaan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Tradisi itu mengajarkan kesopanan ketika seseorang melewati tempat yang warga anggap memiliki kedudukan penting dalam sejarah desa.
Dengan demikian, aturan menuntun kendaraan tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan spiritual. Kebiasaan tersebut juga mencerminkan tata krama masyarakat Jawa dalam menghormati leluhur dan warisan generasi sebelumnya.
Cerita mengenai akibat bagi orang yang mengabaikan tradisi itu juga berkembang di tengah masyarakat. Sutejo menuturkan bahwa beberapa orang pernah mengalami masalah setelah menolak mengikuti aturan. Menurut kisah yang ia dengar, beberapa pelanggar bahkan mengalami kecelakaan ketika melakukan perjalanan pulang.
Namun, cerita tersebut merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat setempat. Nilai utama yang ingin warga pertahankan tetap berpusat pada penghormatan terhadap leluhur dan kepatuhan terhadap adat yang telah berlangsung lama.
Ziarah Tetap Berpusat pada Doa kepada Tuhan
Sutejo juga menjelaskan tujuan utama masyarakat ketika melakukan ziarah ke Petilasan Nyai Bagelen. Menurutnya, para peziarah datang untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus mendoakan Nyai Bagelen.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ziarah tidak bertujuan menyembah sosok yang berkaitan dengan petilasan. Para peziarah biasanya memohon keselamatan dan keberkahan kepada Tuhan sambil mengenang serta menghormati leluhur.
Penjelasan tersebut menjadi penting karena sebagian orang masih memiliki pandangan berbeda mengenai kegiatan ziarah di kawasan petilasan. Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut menjadi salah satu cara menjaga hubungan dengan sejarah sekaligus meneruskan nilai penghormatan terhadap pendahulu.

Petilasan Nyai Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026).
Petilasan Nyai Bagelen Berstatus ODCB
Pemerintah Kabupaten Purworejo juga memberikan perhatian terhadap keberadaan Petilasan Nyai Bagelen. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo memandang situs tersebut sebagai bagian penting dari sejarah serta identitas masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menjelaskan bahwa pemerintah masih mencatat Petilasan Nyai Bagelen sebagai Objek Diduga Cagar Budaya atau ODCB. Dengan demikian, situs tersebut belum menyandang status resmi sebagai Cagar Budaya.
Yudhie menyebut kawasan petilasan memiliki satu stupa berukuran besar. Sembilan stupa kecil mengelilingi stupa utama tersebut. Selain itu, kawasan itu juga memiliki chatra sebagai bagian dari peninggalan yang terdapat di lokasi.
Pemerintah daerah telah menjalankan beberapa langkah untuk menjaga kelestarian situs. Salah satunya melalui pembinaan kepada juru pelihara situs dan juru kunci, termasuk pihak yang menjaga Petilasan Nyai Bagelen.
Pelestarian Sejarah Nyai Bagelen
Upaya menjaga warisan Nyai Bagelen tidak hanya berfokus pada situs fisik. Pemerintah dan masyarakat juga berusaha memperkenalkan kisahnya melalui seni serta dokumentasi sejarah.
Legenda Nyai Bagelen pernah menjadi inspirasi sebuah karya tari. BPCB Jawa Tengah juga pernah mendokumentasikan situs tersebut. Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo memasukkan Petilasan Nyai Bagelen dalam video bertema perjalanan Purworejo dari masa ke masa.
Pemerintah daerah juga mendorong masyarakat untuk menempatkan cerita rakyat berdampingan dengan kajian sejarah. Salah satu caranya melalui penguatan materi sejarah lokal dalam pembelajaran di sekolah.
Langkah tersebut dapat membantu generasi muda mengenali perjalanan daerahnya secara lebih luas. Mereka tidak hanya memperoleh cerita yang berkembang secara turun-temurun, tetapi juga memahami konteks sejarah berdasarkan kajian yang tersedia.
Potensi Wisata Religi dan Warisan Budaya Purworejo
Pemerintah Kabupaten Purworejo sebelumnya pernah merencanakan pengembangan wisata religi dengan menjadikan Petilasan Nyai Bagelen sebagai salah satu daya tarik utama. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pengembangan wisata juga perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga nilai sejarah, tradisi, dan kondisi situs. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan wisata tidak menghilangkan karakter asli Petilasan Nyai Bagelen sebagai bagian dari warisan masyarakat.
Yudhie berharap generasi muda dapat mempelajari berbagai nilai positif dari kisah Nyai Bagelen. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah lokal dapat memperkuat rasa percaya diri sekaligus membantu masyarakat mempertahankan identitas budayanya.
Keberadaan Petilasan Nyai Bagelen pada akhirnya tidak hanya menawarkan daya tarik wisata religi. Situs ini juga menyimpan cerita mengenai tradisi, penghormatan terhadap leluhur, peninggalan sejarah, dan perjalanan panjang masyarakat Bagelen. Karena itu, pelestarian kawasan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga salah satu bagian identitas sejarah Purworejo.