Trik Memasak Yang Tidak Efektif masih sering digunakan di dapur karena kebiasaan tersebut sudah berlangsung lama dan dianggap membantu menyelesaikan berbagai persoalan saat mengolah makanan. Padahal, penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa beberapa cara populer tersebut tidak memberikan manfaat sesuai anggapan masyarakat. Bahkan, kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
Tips memasak memang mudah menyebar dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seseorang mungkin mempelajari suatu cara dari orang tua, kemudian menerapkannya selama bertahun-tahun tanpa mempertanyakan alasan di baliknya.
Masalahnya, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan belum tentu memiliki dasar ilmiah. Contohnya mencuci daging ayam mentah agar lebih bersih, menuangkan minyak ke air rebusan mi, atau mengandalkan kentang untuk memperbaiki makanan yang terlalu asin.
Dilansir dari The Takeout pada Sabtu (29/8/2026), sejumlah trik dapur populer ternyata tidak bekerja seperti yang selama ini dipercaya. Berikut lima di antaranya beserta cara yang lebih tepat untuk diterapkan.
1. Mencuci Ayam Mentah Tidak Membuatnya Lebih Aman
Sebagian orang selalu membilas ayam mentah menggunakan air sebelum memasaknya. Mereka biasanya melakukan langkah tersebut untuk membersihkan lendir, darah, atau kotoran yang terlihat pada permukaan daging.
Namun, air justru dapat membantu bakteri berpindah ke berbagai bagian dapur. Saat air mengenai ayam, percikannya bisa mencapai wastafel, meja, pisau, talenan, atau peralatan memasak lainnya. Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya kontaminasi silang, termasuk penyebaran bakteri seperti Salmonella.
Membilas ayam dengan air juga tidak menjamin hilangnya mikroorganisme berbahaya. Panas selama proses memasak menjadi langkah yang jauh lebih penting untuk membuat ayam aman dikonsumsi.
Karena itu, masak ayam hingga bagian dalamnya mencapai suhu sekitar 74 derajat Celsius. Suhu tersebut membantu membunuh bakteri berbahaya yang mungkin terdapat pada daging.
Apabila sudah telanjur mencuci ayam, segera bersihkan wastafel dan area di sekitarnya. Sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi kemungkinan bakteri berpindah ke bahan makanan maupun peralatan lain.
2. Minyak dalam Air Rebusan Tidak Mencegah Mi Lengket
Trik memasak yang tidak efektif berikutnya berkaitan dengan proses merebus mi, bihun, atau spaghetti. Banyak orang menuangkan minyak ke dalam air dengan harapan helaian mi tidak menggumpal.
Cara tersebut sebenarnya kurang efektif karena minyak tidak bercampur dengan air. Sebagian besar minyak akan tetap berada di permukaan sehingga tidak melapisi mi secara merata ketika proses perebusan berlangsung.
Pati pada permukaan mi menjadi salah satu penyebab utama helaian mi mudah menempel satu sama lain. Kondisi ini semakin mudah terjadi apabila mi dibiarkan tanpa pengadukan setelah masuk ke air panas.
Solusinya cukup sederhana. Gunakan air dalam jumlah memadai dan aduk mi secara berkala, terutama selama beberapa menit pertama perebusan.
Jika memang membutuhkan minyak, tambahkan setelah proses perebusan selesai dan mi sudah ditiriskan. Cara ini dapat berguna ketika mi selanjutnya akan digunakan untuk membuat hidangan seperti mi goreng.

ilustrasi memasak. Ahli gizi menyebut memasak makanan sendiri hanya beberapa kali seminggu dapat membantu menjaga kesehatan tubuh, suasana hati, hingga menurunkan risiko penyakit kronis.
3. Garam Bukan Rahasia agar Air Cepat Mendidih
Sebagian orang menambahkan garam sejak awal karena menganggap bahan tersebut dapat mempercepat proses mendidihkan air. Kebiasaan ini sering muncul ketika seseorang memasak pasta, mi, ataupun sayuran.
Secara ilmiah, garam justru menaikkan titik didih air. Memang, garam dalam jumlah yang lazim digunakan saat memasak hanya menghasilkan perubahan yang sangat kecil. Namun, perubahan itu tetap tidak membuat air mencapai titik didih lebih cepat.
Jadi, gunakan garam sesuai fungsi utamanya, yakni memberikan rasa pada makanan.
Jika ingin mempercepat proses memasak, pilih ukuran panci yang sesuai, gunakan volume air secukupnya, dan atur besar api dengan tepat. Setelah air mendidih, barulah masukkan bahan makanan sesuai kebutuhan resep.
4. Kentang Tidak Secara Khusus Menyedot Garam dari Masakan
Ketika sup atau gulai terasa terlalu asin, sebagian orang langsung memasukkan kentang kupas ke dalam panci. Mereka berharap kentang akan menarik kelebihan garam sehingga rasa makanan kembali seimbang.
Sayangnya, kentang tidak bekerja sebagai penyerap garam secara khusus.
Selama di masak, kentang memang menyerap cairan. Akan tetapi, cairan yang masuk ke dalam kentang juga mengandung garam dengan konsentrasi yang kurang lebih sama seperti kuah di sekitarnya. Karena alasan tersebut, penambahan kentang tidak secara signifikan menghilangkan garam dari masakan.
Ada solusi yang lebih efektif. Tambahkan air atau kaldu tanpa garam untuk menurunkan konsentrasi rasa asin. Penambahan sayuran, tahu, atau bahan lain juga dapat memperbesar volume makanan sehingga rasa asin menjadi lebih ringan.
Dalam jenis hidangan tertentu, sedikit gula, tomat, atau unsur asam lainnya juga dapat membantu menyeimbangkan rasa. Namun, sesuaikan bahan tambahan dengan karakter masakan agar cita rasanya tidak berubah terlalu jauh.
5. Telur Mengapung Belum Tentu Busuk
Cara lain yang sudah lama populer ialah memasukkan telur ke dalam wadah berisi air. Menurut anggapan umum, telur segar akan tenggelam, sedangkan telur busuk akan mengapung.
Tes tersebut sebenarnya lebih berguna untuk memperkirakan umur telur daripada menentukan apakah telur aman untuk di konsumsi.
Telur mempunyai kantong udara di dalam cangkangnya. Semakin lama telur tersimpan, ukuran kantong udara dapat bertambah. Perubahan inilah yang membuat telur lama cenderung lebih mudah mengapung.
Dengan demikian, posisi telur di dalam air tidak dapat memastikan keberadaan bakteri berbahaya. Telur yang tenggelam pun tidak otomatis bebas kontaminasi. Sebaliknya, telur yang mengapung tidak selalu berarti sudah busuk.
Untuk memeriksanya, pecahkan telur terlebih dahulu ke wadah terpisah sebelum mencampurkannya dengan bahan lain. Amati kondisi fisik, warna, dan aromanya. Hindari menggunakan telur apabila muncul bau busuk atau menyengat, warna yang tidak normal, atau kerusakan pada cangkang.
Memahami Cara Memasak Lebih Penting daripada Mengikuti Mitos
Berbagai trik memasak yang tidak efektif menunjukkan bahwa kebiasaan populer tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan. Beberapa metode mungkin tidak menimbulkan masalah serius, tetapi cara tertentu seperti mencuci ayam mentah justru dapat memperbesar risiko kontaminasi silang di dapur.
Karena itu, pemahaman mengenai cara kerja bahan makanan dapat membantu menentukan teknik memasak yang lebih tepat. Memasak ayam hingga mencapai suhu aman, mengaduk mi selama perebusan, menggunakan garam untuk membangun rasa, mengencerkan makanan yang terlalu asin, serta memeriksa kondisi telur secara langsung merupakan langkah yang lebih masuk akal.
Dengan meninggalkan mitos dapur yang tidak memiliki manfaat nyata, proses memasak dapat berlangsung lebih efektif sekaligus membantu menjaga keamanan makanan.