Kasus Hantavirus – mulai mendapat perhatian serius di DKI Jakarta setelah otoritas kesehatan menemukan sejumlah pasien positif dan suspek. Dinas Kesehatan DKI Jakarta terus memantau perkembangan kasus sambil memperkuat langkah pencegahan di berbagai wilayah.

Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penyebaran virus yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus. Virus tersebut dapat memicu gangguan kesehatan serius apabila seseorang terlambat mendapatkan penanganan medis.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengirimkan surat kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan. Pemerintah juga menunjuk beberapa rumah sakit umum daerah sebagai rumah sakit sentinel untuk memantau kemungkinan kemunculan kasus baru.

Hantavirus termasuk kelompok virus yang dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama, yaitu sindrom paru hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan demam berdarah dengan sindrom ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Penularan virus umumnya terjadi ketika manusia menghirup udara yang telah tercampur kotoran, urine, atau cairan tubuh tikus yang mengandung virus.

Pekerja Lapangan Jadi Kelompok Paling Rentan

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa orang dengan daya tahan tubuh lemah memiliki risiko lebih besar terinfeksi hantavirus.

Selain itu, sejumlah profesi juga menghadapi risiko tinggi karena sering beraktivitas di lingkungan yang menjadi habitat tikus.

Pekerja kebersihan, petugas gudang, tentara, penjaga hutan, hingga petugas laboratorium termasuk kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas mereka membuat peluang kontak dengan tikus atau kotorannya menjadi lebih besar.

Pemulung dan pekerja pengelolaan sampah juga menghadapi ancaman serupa. Mereka sering bekerja di area dengan sanitasi kurang baik dan populasi tikus yang cukup tinggi.

Peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, Arif Mulyono, menilai kawasan TPST Bantargebang menjadi salah satu lokasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Petugas kesehatan memantau kasus hantavirus di Jakarta

Peneliti dari Malbran Institute memegang sampel untuk meneliti hantavirus Andes, dalam tes di Buenos Aires, Argentina, 6 Mei 2026. WHO menegaskan wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan pandemi baru meski sejumlah penumpang masih menjalani pemantauan ketat.

TPST Bantargebang Di Nilai Memiliki Risiko Tinggi

TPST Bantargebang di Bekasi menampung sampah dalam jumlah besar dari berbagai wilayah Jabodetabek. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.

Tumpukan sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik membuat tikus mudah mencari makanan dan berkembang biak. Situasi tersebut meningkatkan risiko penyebaran hantavirus kepada masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Arif menjelaskan bahwa pemulung menjadi kelompok yang paling rentan tertular karena mereka sering melakukan kontak langsung dengan sampah dan area yang terkontaminasi.

Selain pemulung, pekerja pengangkut sampah dan warga sekitar tempat pengelolaan sampah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus.

Kondisi lingkungan yang kotor dan penuh sampah dapat memicu munculnya berbagai penyakit menular. Karena itu, pengelolaan sampah yang baik menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyebaran hantavirus.

Tingkat Keparahan Hantavirus Berbeda pada Setiap Pasien

Dicky Budiman menjelaskan bahwa tingkat keparahan hantavirus dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagian penderita hanya mengalami gejala ringan, tetapi sebagian lainnya mengalami kondisi serius hingga meninggal dunia.

Belakangan ini, masyarakat menerima informasi mengenai pasien hantavirus yang meninggal di Bandung, Jawa Barat. Kementerian Kesehatan memastikan bahwa kasus tersebut merupakan kasus lama dan tidak berkaitan dengan penyebaran virus di kapal pesiar MV Hondius.

Menurut Dicky, jenis virus sangat menentukan tingkat kematian pasien.

Varian Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) termasuk jenis paling berbahaya karena dapat menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai 35 hingga 60 persen.

Sementara itu, varian Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) memiliki tingkat kematian lebih rendah, yaitu sekitar 5 hingga 15 persen.

Meski demikian, pasien tetap memiliki peluang sembuh lebih besar apabila tenaga medis memberikan penanganan secara cepat sejak awal gejala muncul.

Gejala Hantavirus Harus Segera Di Waspadai

Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama, menjelaskan bahwa pasien hantavirus umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot.

Ngabila meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko tinggi.

Ia menegaskan bahwa penanganan cepat sangat penting karena hantavirus dapat berkembang menjadi penyakit serius dalam waktu singkat.

Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak napas, gangguan ginjal, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Kelompok dengan sistem imun lemah seperti bayi, balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta juga memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Pencegahan Hantavirus Di Mulai dari Kebersihan Lingkungan

Tenaga kesehatan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan untuk menekan risiko penularan hantavirus. Salah satu langkah utama yaitu membasmi tikus dan membersihkan rumah secara rutin.

Masyarakat juga perlu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker saat membersihkan area berdebu, serta menjaga ventilasi udara tetap baik.

Selain itu, pengelolaan sampah yang benar sangat penting untuk mengurangi populasi tikus di lingkungan permukiman.

Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu bekerja sama membangun sistem kebersihan lingkungan yang lebih baik. Kolaborasi tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit akibat hewan pengerat.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat dapat menekan risiko penularan hantavirus sekaligus mencegah munculnya kasus yang lebih serius di masa mendatang