Banyuwangi – Perang Bayu atau yang juga di kenal sebagai Puputan Bayu merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang menandai perlawanan besar rakyat Blambangan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-18. Perang ini bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi juga menjadi simbol keberanian masyarakat dalam mempertahankan tanah kelahirannya dari kekuasaan kolonial.

Puncak pertempuran berlangsung pada 18 Desember 1771 di kawasan Bayu, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Hingga saat ini, tanggal tersebut di peringati sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah daerah tersebut.

Apa Itu Perang Bayu?

Perang Bayu adalah rangkaian peperangan antara rakyat Blambangan dengan VOC yang berlangsung sekitar tahun 1767 hingga 1772. Konflik ini mencapai puncaknya dalam pertempuran sengit di wilayah Bayu, yang saat ini di kenal sebagai Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Peristiwa tersebut juga populer dengan nama Puputan Bayu. Istilah puputan memiliki makna perang hingga akhir atau bertempur tanpa menyerah. Bagi para pejuang Blambangan, menyerah kepada penjajah bukanlah pilihan sehingga mereka memilih berjuang sampai titik darah penghabisan.

Dalam sejarah Indonesia, Perang Bayu di kenang sebagai salah satu bentuk perlawanan paling besar terhadap kolonialisme Belanda di kawasan ujung timur Pulau Jawa. Semangat juang masyarakat Blambangan menjadi simbol keberanian, persatuan, sekaligus kecintaan terhadap tanah air.

Latar Belakang Terjadinya Perang Bayu

Awal mula Perang Bayu tidak dapat di pisahkan dari ambisi VOC untuk menguasai wilayah Blambangan. Meskipun daerah tersebut telah diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC pada 1743, penguasaan penuh belum segera dilakukan karena kawasan tersebut di anggap belum terlalu strategis.

Situasi berubah ketika Inggris mulai menjalin hubungan perdagangan dengan Blambangan pada tahun 1766. Kehadiran pedagang Inggris di kawasan Banyuwangi memunculkan kekhawatiran VOC terhadap potensi persaingan dagang. Oleh sebab itu, VOC mempercepat ekspansi militernya demi menguasai wilayah tersebut.

Selain faktor persaingan ekonomi dan perdagangan, kebijakan VOC terhadap masyarakat setempat juga memicu kemarahan rakyat. Penduduk di paksa bekerja dalam berbagai proyek tanpa memperoleh makanan maupun perlakuan yang layak. Akibatnya, banyak masyarakat mengalami kelaparan, penderitaan, hingga kehilangan nyawa.

Kondisi tersebut akhirnya membangkitkan semangat perlawanan rakyat Blambangan yang menolak tunduk kepada kekuasaan kolonial.

Kronologi Perang Bayu

Perlawanan terhadap VOC berlangsung dalam beberapa tahap sebelum mencapai puncaknya pada akhir tahun 1771.

Pada awal perjuangan, perlawanan di pimpin oleh Wong Agung Wilis, putra Raja Blambangan Danureja. Ia memimpin sejumlah serangan terhadap pasukan VOC. Namun, perjuangannya terhenti setelah berhasil di tangkap dan kemudian di asingkan ke Kepulauan Banda pada tahun 1768.

Setelah itu, kepemimpinan di teruskan oleh Pangeran Jagapati. Bersama para pengikutnya, ia menjadikan kawasan Bayu di lereng Gunung Raung sebagai basis pertahanan. Tempat tersebut kemudian berkembang menjadi pusat berkumpulnya masyarakat Blambangan yang masih ingin melanjutkan perjuangan melawan VOC.

Semakin banyak rakyat yang bergabung membuat kekuatan perlawanan kembali terbentuk. Di bawah komando Pangeran Jagapati, para pejuang sepakat melaksanakan strategi puputan, yaitu bertempur habis-habisan sebagai bentuk penolakan terhadap penjajahan.

Puncak Perang Bayu terjadi pada 18 Desember 1771. Ribuan pejuang Blambangan melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan VOC. Mereka memanfaatkan kondisi geografis wilayah Bayu dengan membuat jebakan berupa parit yang di penuhi bambu runcing. Strategi tersebut berhasil menimbulkan banyak korban di pihak VOC, bahkan beberapa perwira Belanda di laporkan gugur dalam pertempuran.

Meskipun sempat mengalami kekalahan, VOC akhirnya mampu membalikkan keadaan berkat keunggulan persenjataan modern yang di milikinya. Pada 19 Desember 1771, Pangeran Jagapati meninggal dunia akibat luka-luka yang di deritanya setelah memimpin pertempuran.

Walaupun secara militer rakyat Blambangan tidak berhasil mengusir VOC, semangat perjuangan mereka tetap di kenang sebagai salah satu bentuk perlawanan terbesar terhadap kolonialisme di Nusantara.

Ilustrasi Perang Bayu, perlawanan rakyat Blambangan melawan VOC di Banyuwangi yang menjadi bagian penting sejarah dan budaya daerah.

Ilustrasi Perang Bayu Banyuwangi.

Hubungan Perang Bayu dengan Hari Jadi Banyuwangi

Perang Bayu memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Banyuwangi. Pada masa itu, wilayah Banyuwangi berkembang sebagai jalur perdagangan yang memiliki posisi strategis sehingga menjadi incaran VOC.

Rangkaian konflik yang berpuncak pada 18 Desember 1771 di pandang sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah daerah tersebut. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi.

Penetapan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan masyarakat Blambangan yang rela berkorban demi mempertahankan wilayahnya dari kekuasaan kolonial.

Perang Bayu Diangkat dalam Banyuwangi Ethno Carnival 2026

Nilai-nilai perjuangan Perang Bayu terus di wariskan melalui berbagai kegiatan budaya. Salah satu di antaranya adalah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 yang mengusung tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan.”

Melalui tema tersebut, kisah heroik masyarakat Blambangan di hadirkan dalam bentuk pertunjukan seni yang memadukan kostum etnik, koreografi teatrikal, serta elemen fesyen modern. Konsep ini bertujuan mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat identitas budaya Banyuwangi.

Lima Subtema Banyuwangi Ethno Carnival 2026

Untuk memperkuat narasi sejarah, Banyuwangi Ethno Carnival 2026 menghadirkan lima subtema utama yang menggambarkan berbagai aspek Perang Bayu.

Pejuang Blambangan

Subtema ini mengangkat sosok-sosok penting dalam perjuangan rakyat Blambangan, termasuk Pangeran Jagapati dan para pejuang lainnya yang menjadi simbol keberanian menghadapi penjajah.

Genderang Perang

Bagian ini menampilkan visualisasi persenjataan tradisional yang di gunakan masyarakat Blambangan, seperti keris, tombak, hingga jemparing atau panah. Seluruh elemen tersebut merepresentasikan semangat perjuangan masyarakat pada masa itu.

VOC dan Sekutu

Subtema berikutnya menggambarkan kekuatan kolonial VOC beserta sistem pemerintahan dan kebijakan yang di terapkan selama masa penjajahan. Visualisasi tersebut memberikan gambaran mengenai situasi yang di hadapi rakyat Blambangan.

Situs Perang

Tema ini mengangkat berbagai lokasi bersejarah yang berkaitan dengan Perang Bayu, seperti Rowo Bayu, Teluk Pang-pang, dan Pelabuhan Grajagan. Kawasan-kawasan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Banyuwangi.

Hasil Bumi

Subtema terakhir menyoroti kekayaan alam Banyuwangi yang menjadi salah satu alasan utama kedatangan bangsa asing. Berbagai komoditas seperti rempah-rempah dan hasil perkebunan di tampilkan sebagai simbol melimpahnya sumber daya alam yang di miliki wilayah Blambangan.

Penutup

Perang Bayu merupakan salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme. Meskipun tidak berakhir dengan kemenangan militer, semangat pantang menyerah yang di tunjukkan masyarakat Blambangan telah meninggalkan warisan berharga bagi generasi berikutnya.

Kini, kisah heroik tersebut tidak hanya di kenang melalui penetapan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga terus di hidupkan melalui berbagai kegiatan budaya seperti Banyuwangi Ethno Carnival. Dengan demikian, nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air tetap lestari sebagai bagian dari identitas masyarakat Banyuwangi maupun sejarah bangsa Indonesia.