Trend Micro – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membawa perubahan besar dalam dunia digital, termasuk sektor keamanan siber. Teknologi yang sebelumnya membantu aktivitas seperti membuat gambar, merangkum dokumen, hingga menjawab pertanyaan kini mulai mengambil peran lebih luas dalam pola serangan digital modern.

Trend Micro melalui unit enterprise di Indonesia mulai memperkenalkan identitas baru bernama TrendAI. Perusahaan menghadirkan perubahan tersebut sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman siber berbasis AI yang berkembang semakin cepat.

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana, menjelaskan bahwa AI kini mampu mempercepat proses serangan siber secara signifikan. Jika sebelumnya pelaku ransomware membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melancarkan serangan, AI kini memungkinkan proses tersebut berjalan hanya dalam hitungan menit.

Perkembangan tersebut membuat pola ancaman digital menjadi jauh lebih kompleks. AI tidak hanya membantu mencari celah keamanan, tetapi juga mempercepat eksploitasi sistem dan menyusun strategi serangan secara otomatis.

AI Percepat Otomatisasi Serangan Digital

Dalam beberapa tahun terakhir, industri keamanan siber memang mulai memanfaatkan AI untuk membantu mendeteksi ancaman digital. Namun perkembangan teknologi terbaru membuat kemampuan AI meningkat jauh lebih agresif.

Kini AI mampu menjalankan hampir seluruh tahapan serangan siber secara otomatis. Teknologi tersebut dapat mencari target, menganalisis vulnerability, hingga menjalankan eksploitasi sistem tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Fetra Syahbana menjelaskan bahwa AI memungkinkan pelaku serangan menggabungkan berbagai celah keamanan yang sebelumnya terlihat aman menjadi ancaman serius. AI bahkan mampu menemukan pola eksploitasi baru dalam waktu yang sangat singkat.

Salah satu contoh yang muncul yaitu vulnerability Linux bernama “Copy Fail” yang ternyata sudah ada lebih dari satu dekade tetapi baru terdeteksi belakangan ini. Kasus tersebut menunjukkan bahwa AI mampu menemukan kelemahan sistem yang sebelumnya sulit dikenali manusia.

Menurut Fetra, AI sebenarnya tidak menciptakan ancaman baru sepenuhnya. Teknologi tersebut lebih banyak membantu menemukan dan menggabungkan kelemahan sistem yang selama ini tersembunyi sehingga berubah menjadi ancaman yang lebih berbahaya.

Logo baru TrendAI sebagai identitas terbaru Trend Micro

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana dalam wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor TrendAI Indonesia di The Plaza, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Indonesia Alami Lonjakan Penggunaan AI

TrendAI juga melihat peningkatan penggunaan AI di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data internal perusahaan, Indonesia kini menempati posisi kedua di Asia Tenggara dalam penggunaan layanan AI setelah Singapura.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia berkembang sangat cepat, baik di sektor bisnis, pendidikan, maupun aktivitas digital sehari-hari. Selain memanfaatkan layanan AI global, berbagai pihak di Indonesia juga mulai mengembangkan teknologi AI lokal sendiri.

Perkembangan infrastruktur cloud dan GPU dari perusahaan global seperti Amazon Web Services dan NVIDIA ikut mempercepat pertumbuhan AI di Indonesia.

Fetra menilai perkembangan tersebut menjadi “pedang dua sisi”. AI memang membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja, tetapi teknologi yang sama juga membuka peluang munculnya ancaman digital yang lebih kompleks.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya memanfaatkan AI untuk mendukung operasional bisnis. Mereka juga harus memastikan sistem AI yang digunakan tetap aman dan terlindungi dari potensi ancaman siber.

TrendAI Kembangkan Strategi Keamanan Proaktif

Untuk menghadapi perubahan pola ancaman digital, TrendAI mulai mengembangkan pendekatan keamanan siber yang lebih proaktif melalui platform Vision One dan model AI internal bernama Cybertron.

Cybertron memanfaatkan basis data keamanan siber milik Trend Micro yang telah berkembang selama lebih dari 35 tahun. Sistem tersebut membantu perusahaan mendeteksi ancaman digital lebih cepat sebelum berkembang menjadi serangan besar.

TrendAI juga menggunakan teknologi Digital Twin untuk membuat replika virtual lingkungan digital perusahaan. AI kemudian menjalankan simulasi keamanan selama 24 jam tanpa henti melalui replika tersebut.

Melalui simulasi itu, sistem dapat memprediksi ancaman potensial, menghitung tingkat risiko, serta memberikan rekomendasi mitigasi sebelum serangan benar-benar terjadi. Pendekatan tersebut membantu perusahaan mengambil langkah pencegahan lebih awal.

TrendAI menyebut pendekatan tersebut sebagai konsep “AI melawan AI”. Perusahaan memanfaatkan AI untuk menghadapi ancaman digital yang juga bergerak menggunakan teknologi AI.

Perusahaan Perlu Perkuat Governance AI

Fetra menilai perusahaan kini perlu memperkuat governance AI agar mampu menghadapi ancaman digital yang terus berkembang. Perusahaan juga harus mulai mendata penggunaan tools AI di lingkungan kerja serta memperkuat perlindungan data internal.

Menurutnya, pendekatan keamanan lama yang bersifat reaktif sudah tidak cukup menghadapi pola serangan modern. AI mampu mencari celah keamanan setiap hari secara otomatis sehingga perusahaan membutuhkan sistem pengawasan yang berjalan secara real-time.

TrendAI meyakini AI akan menjadi fondasi penting dalam berbagai sistem digital di masa depan. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan strategi keamanan yang lebih adaptif agar mampu menghadapi perubahan ancaman siber yang semakin cepat dan kompleks.