Iran Peringatkan Korea Selatan agar tidak mengambil bagian dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Teheran menilai keterlibatan Seoul dalam aktivitas keamanan yang dipimpin Washington di kawasan tersebut berpotensi membawa konsekuensi serius.

Peringatan Iran muncul setelah Pemerintah Korea Selatan menyampaikan sikapnya pada Jumat (4/9/2026). Seoul tengah mengkaji kemungkinan memberikan kontribusi terhadap upaya keamanan AS di Selat Hormuz.

Namun, Korea Selatan belum menetapkan keputusan akhir mengenai rencana tersebut. Pemerintah Korsel juga mempertimbangkan kesiapan pertahanan nasional sebelum menentukan bentuk kontribusi yang mungkin diberikan.

Rencana itu kemudian mendapat tanggapan tegas dari Iran. Teheran meminta Seoul mempertimbangkan dampak yang dapat muncul apabila Korea Selatan memutuskan terlibat dalam operasi di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Iran Minta Korea Selatan Tak Ikuti Tekanan AS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan peringatan tersebut melalui media sosial X. Ia meminta Pemerintah Korea Selatan tidak mengikuti tekanan Washington terkait situasi keamanan di Selat Hormuz.

Baghaei menilai pengerahan kekuatan militer ataupun keterlibatan suatu negara dalam operasi pihak lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz dapat menunjukkan keberpihakan terhadap pihak yang Iran anggap bertanggung jawab atas agresi.

Karena itu, Iran memperingatkan adanya konsekuensi serius jika negara lain memilih bergabung dalam operasi tersebut.

Pernyataan itu memperlihatkan sikap Teheran terhadap kemungkinan bertambahnya keterlibatan negara asing di kawasan. Iran tidak hanya memperhatikan aktivitas AS, tetapi juga mencermati keputusan negara lain yang berpotensi mendukung operasi Washington.

Sementara itu, Korea Selatan belum memastikan apakah akan mengirim kekuatan militernya. Seoul sejauh ini baru menyatakan sedang mempertimbangkan opsi kontribusi dengan tetap memperhitungkan kebutuhan pertahanan negara.

Iran peringatkan Korea Selatan

Patung manusia mengawasi Selat Hormuz dengan membawa senjata terpasang di tepi laut Kota Bandar Abbas, Iran selatan.

Ketegangan Selat Hormuz Belum Mereda

Persoalan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz berlangsung dalam situasi keamanan yang masih tegang. Konflik kedua negara pecah pada 28 Februari 2026 dan kemudian memengaruhi aktivitas di kawasan Teluk.

Iran mengendalikan sebagian besar wilayah perairan strategis tersebut. Situasi itu membuat persoalan penguasaan jalur pelayaran menjadi salah satu bagian penting dalam perselisihan Teheran dan Washington.

Pada April 2026, gencatan senjata menghentikan fase awal pengeboman intensif. Meski demikian, kesepakatan tersebut belum mengakhiri seluruh ketegangan. Iran dan AS masih melancarkan serangan di kawasan Teluk dan wilayah sekitarnya.

Selain konflik di lapangan, proses diplomasi kedua negara juga belum menghasilkan jalan keluar. Perundingan menemui kebuntuan ketika kedua pihak masih berbeda pandangan mengenai kendali atas jalur navigasi tersebut.

Kondisi inilah yang membuat setiap rencana keterlibatan negara lain mendapat perhatian besar. Bagi Iran, kehadiran kekuatan tambahan yang mendukung operasi AS dapat memengaruhi situasi keamanan yang sudah kompleks.

Selat Hormuz Punya Peran Penting bagi Energi Dunia

Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi jalur penting perdagangan energi internasional. Dalam situasi normal, sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair atau LNG dunia melewati kawasan perairan tersebut.

Konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 kemudian menghentikan lalu lintas di jalur tersebut. Gangguan itu ikut memberikan tekanan terhadap pasar energi global karena aktivitas pelayaran tidak lagi berjalan seperti sebelum perang.

Di tengah kondisi tersebut, Iran menerapkan aturan baru bagi kapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Teheran mewajibkan setiap kapal memperoleh izin sebelum melanjutkan pelayaran melalui kawasan itu.

Washington bersama sejumlah negara di kawasan menolak kebijakan Iran tersebut. Perbedaan sikap mengenai aturan pelayaran akhirnya menambah persoalan antara kedua pihak.

Iran juga menegaskan tidak berencana mengembalikan mekanisme pelayaran bebas seperti kondisi sebelum perang. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa persoalan mengenai akses dan pengendalian Selat Hormuz masih akan menjadi bagian penting dari ketegangan kawasan.

Dengan kondisi tersebut, pertimbangan Korea Selatan untuk memberikan kontribusi terhadap upaya keamanan AS mendapat perhatian langsung dari Teheran. Iran meminta Seoul tidak mengambil langkah yang dapat menempatkannya sebagai bagian dari operasi Washington.

Sejauh ini, Korea Selatan belum mengumumkan keputusan resmi. Namun, peringatan Iran menunjukkan bahwa setiap bentuk keterlibatan militer negara lain di Selat Hormuz dapat memunculkan respons keras di tengah ketegangan yang belum mereda.