Sundubu Gangneung menjadi salah satu kuliner tradisional yang menarik perhatian di kota pesisir timur Korea Selatan tersebut. Bukan hanya teksturnya yang sangat lembut, masyarakat setempat juga mempertahankan cara pembuatan tahu ini dengan memanfaatkan air laut, sebuah tradisi yang memiliki sejarah panjang.

Gangneung selama ini lebih populer sebagai destinasi wisata pantai. Kota tersebut memiliki garis pantai berpasir yang panjang dengan beragam fasilitas bagi wisatawan. Hotel, pusat perbelanjaan, kedai kopi, hingga toko gelato berdiri di sepanjang kawasan pesisir.

Namun, wisata Gangneung tidak hanya menawarkan panorama laut. Kota ini juga menyimpan kekayaan kuliner yang terus bertahan lintas generasi. Salah satu yang paling menonjol adalah sundubu, tahu lembut yang memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat setempat.

Mengenal Sundubu Khas Gangneung

National Geographic menyebut sundubu sebagai tahu dengan tekstur sangat lembut. Masyarakat Korea kerap menggunakan tahu ini sebagai salah satu bahan sundubu jjigae.

Sundubu jjigae sendiri merupakan sajian berkuah khas Korea. Isiannya dapat memadukan sundubu dengan makanan laut, daging, ataupun sayuran. Tekstur tahu yang lembut kemudian menjadi salah satu karakter utama hidangan tersebut.

Di Gangneung, tradisi pembuatan sundubu sudah berlangsung selama ratusan tahun. Bahkan, masyarakat setempat menyebut sejarah pembuatan tahu tersebut telah bermula sekitar 1.500 tahun lalu.

Sebuah legenda turut mengiringi perjalanan panjang kuliner ini. Menurut cerita yang berkembang, seorang anggota keluarga kerajaan pernah mencampurkan susu kedelai dengan air laut. Campuran tersebut kemudian menghasilkan dadih tahu bertekstur lembut.

Sejak saat itu, penggunaan air laut menjadi bagian penting dalam cerita mengenai sundubu Gangneung. Masyarakat percaya bahwa air laut ikut memberikan karakter khas pada tekstur dan cita rasa tahu tersebut.

Sundubu Tradisional Berbeda dari Produk Pabrik

Kini konsumen dapat menemukan sundubu dengan mudah di berbagai supermarket Korea Selatan. Produsen skala besar biasanya menggunakan proses pabrikasi untuk membuatnya sebelum mengemas produk ke dalam tabung plastik.

Sebaliknya, sejumlah pembuat tahu tradisional di Gangneung masih mempertahankan metode artisanal. Mereka mengolah sundubu menggunakan tangan dan tidak melakukan proses pasteurisasi.

Perbedaan cara produksi tersebut membuat tradisi pembuatan sundubu di Gangneung tetap memiliki identitas tersendiri. Para pembuat tahu tradisional tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga mempertahankan teknik yang keluarga mereka teruskan selama beberapa generasi.

Sundubu Gangneung

Ilustrasi tahu.

Chodang-dong Menjadi Sentra Sundubu Gangneung

Wisatawan yang ingin mengenal tradisi tersebut dapat menemukannya di Chodang-dong. Kawasan ini terletak beberapa ratus meter dari pantai dan tidak jauh dari Laguna Gyeongpo.

Meski wilayahnya relatif kecil, Chodang-dong memiliki sejumlah restoran tahu yang sudah beroperasi selama puluhan tahun. Banyak keluarga masih menjalankan restoran tersebut sekaligus meneruskan resep dan teknik pembuatan tahu dari generasi sebelumnya.

Salah satu tempat yang mempertahankan cara tradisional adalah Oldtime Chodang Sundubu Restaurant. Maeil Business menyebut pemiliknya, Lee Young-soon, sebagai salah satu pembuat tahu yang masih menggunakan metode manual.

Lee menjelaskan bahwa timnya membuat tahu dengan tangan setiap hari. Menurutnya, saat ini tidak banyak restoran yang masih mempertahankan proses tersebut.

Restoran milik Lee juga mengusung suasana sederhana seperti ruang makan di rumah. Meja berlapis vinil dan tanaman dalam pot menghiasi interiornya. Selain itu, sejumlah foto hitam-putih memenuhi bagian dinding.

Beberapa foto tersebut memperlihatkan selebritas serta bintang televisi Korea yang pernah datang ke restoran itu.

Air Laut Segar Menjadi Bagian Penting Pembuatan Sundubu

Proses produksi menjadi salah satu hal yang membedakan sundubu tradisional Gangneung dari tahu buatan pabrik. Lee menggunakan kedelai berkualitas tinggi bersama air laut segar sebagai bahan pembuatan tahu di restorannya.

Setelah menyelesaikan proses pembuatan, Lee menempatkan sundubu segar ke dalam wadah berukuran besar. Ia juga tidak melakukan penyaringan secara berlebihan terhadap tahu tersebut.

Langkah itu bertujuan menjaga karakter sundubu. Bagi Lee, tekstur lembut merupakan bagian penting yang harus tetap ada pada tahu buatannya. Karena alasan tersebut, ia memilih tidak menyaring sundubu seperti proses yang dapat terjadi pada produk lainnya.

Metode manual tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi kuliner masih bertahan di tengah berkembangnya produksi makanan modern. Meskipun konsumen kini dapat membeli sundubu produksi massal dengan mudah, sejumlah keluarga di Gangneung tetap menjalankan cara pembuatan yang mereka warisi.

Keberadaan Chodang-dong pun memperlihatkan sisi lain Gangneung selain wisata pantainya. Di kawasan yang tidak jauh dari laut itu, sundubu menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal yang terus hidup.

Penggunaan kedelai berkualitas, air laut segar, proses manual, serta upaya menjaga tekstur lembut membuat sundubu tradisional Gangneung memiliki karakter berbeda dari produk produksi massal. Tradisi panjang tersebut juga menjadikan tahu sederhana ini sebagai salah satu kuliner khas yang melekat pada identitas Gangneung.