Serangan Drone Israel kembali menjadi sorotan setelah menghantam kerumunan warga sipil yang sedang mengikuti prosesi pemakaman di kawasan pengungsian Nuseirat, Jalur Gaza, pada Jumat (17/7/2026). Insiden tersebut menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina dan menyebabkan sekitar 20 orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini memicu perhatian internasional karena terjadi saat kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak masih di berlakukan.
Menurut sejumlah laporan, serangan terjadi ketika warga berkumpul di sekitar Masjid Ahmad Yassin untuk mengiringi pemakaman seorang korban yang sebelumnya meninggal akibat serangan militer. Suasana duka mendadak berubah menjadi kepanikan setelah sebuah drone melancarkan serangan ke arah kerumunan.
Warga Sipil Menjadi Korban di Tengah Prosesi Pemakaman
Sejumlah saksi mata mengatakan warga yang hadir tidak sedang melakukan aktivitas militer, melainkan hanya mengikuti prosesi penghormatan terakhir kepada korban yang telah meninggal dunia. Serangan tersebut menyebabkan banyak korban berjatuhan dalam waktu singkat.
Video yang beredar di berbagai platform media sosial memperlihatkan situasi mencekam setelah ledakan terjadi. Sejumlah korban tampak tergeletak di lokasi, sementara warga lainnya berusaha memberikan pertolongan kepada mereka yang terluka sebelum tim medis tiba.
Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat mengonfirmasi telah menerima delapan jenazah dari lokasi kejadian. Selain itu, fasilitas kesehatan tersebut juga menangani sekitar 20 korban luka dengan berbagai tingkat cedera akibat serangan tersebut.
Petugas medis bekerja cepat memberikan penanganan darurat mengingat sebagian korban mengalami luka serius. Kondisi rumah sakit yang telah lama menghadapi keterbatasan akibat konflik berkepanjangan membuat proses penanganan berlangsung di bawah tekanan.

Seorang pria berjalan di tengah reruntuhan bangunan yang hancur diserang Israel di permukiman Zahra, Nuseirat, tengah Jalur Gaza.
Pemerintah Gaza Sebut Serangan Terus Meningkat
Kantor media pemerintah Gaza menyatakan bahwa dalam tiga hari terakhir lebih dari 25 warga Palestina di laporkan meninggal dunia akibat berbagai serangan yang terjadi di sejumlah wilayah. Mereka menyebut sasaran serangan meliputi pasar tradisional, kawasan permukiman, kerumunan warga, hingga prosesi pemakaman.
Pihak tersebut menilai rangkaian serangan menunjukkan meningkatnya intensitas operasi militer yang berdampak langsung terhadap masyarakat sipil. Mereka juga menegaskan bahwa berbagai lokasi yang menjadi sasaran merupakan tempat yang di penuhi warga tanpa persenjataan.
Dalam pernyataan resminya, kantor media pemerintah Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap berbagai aturan hukum humaniter internasional serta kesepakatan yang telah di sepakati sebelumnya. Mereka mendesak komunitas internasional agar memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan
Serangan terhadap prosesi pemakaman menambah daftar insiden yang terjadi sejak di berlakukannya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025. Meski terdapat kesepakatan penghentian konflik, berbagai laporan menunjukkan bentrokan dan serangan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah Jalur Gaza.
Peristiwa terbaru ini kembali memunculkan kekhawatiran mengenai efektivitas pelaksanaan gencatan senjata. Berulangnya insiden yang menimpa warga sipil di nilai berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan serta menghambat berbagai upaya perdamaian yang tengah di upayakan oleh berbagai pihak.
Di sisi lain, organisasi kemanusiaan terus menyerukan perlindungan terhadap masyarakat sipil serta akses bantuan yang aman bagi para korban konflik. Mereka berharap seluruh pihak dapat menghormati hukum internasional dan menghindari tindakan yang membahayakan penduduk sipil.
Situasi Kemanusiaan Masih Memprihatinkan
Konflik yang berkepanjangan telah meninggalkan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat Gaza. Selain korban jiwa yang terus bertambah, ribuan keluarga masih hidup di tempat pengungsian dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan, air bersih, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Insiden di Nuseirat menjadi pengingat bahwa situasi keamanan di wilayah tersebut masih sangat rapuh. Berbagai pihak internasional terus mendorong langkah di plomatik agar kekerasan dapat di hentikan dan perlindungan terhadap warga sipil menjadi prioritas utama demi mencegah bertambahnya korban di masa mendatang.